MEDIA pembelajaran berbasis game web ini disusun sesuai kurikulum SPS Rumah Pintar Antariksa agar bisa langsung dipakai guru dalam kegiatan belajar di kelas.
Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dirilis oleh OECD, Indonesia berada di posisi ke-6 dari 8 negara ASEAN dalam hal kemampuan literasi dan numerasi siswa usia 15 tahun. Kemampuan siswa Indonesia dalam matematik tercatat 366 poin, jauh di bawa rerata negara OECD (472 poin). Kelemahan itu terlihat pada kemampuan numerasi siswa sejak usia dini (Taman Kanak-kanak).
Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan implementasi media pembelajaran numerasi berbasis game web di SPS Rumah Pintar Antariksa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kegiatan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pelatihan penggunaan media pembelajaran bagi guru, dan tahap kedua berupa pendampingan implementasi media di kelas saat jam pelajaran berlangsung.
Program ini merupakan bagian dari Program Pendampingan Masyarakat Pemula (PMP) pada kegiatan Kegiatan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarat Tahun 2026, Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Tim pengabdian dipimpin oleh Misna Asqia sebagai ketua, didampingi Jemiro Kasih dan Salman Fathy Shiroth sebagai anggota dosen serta sejumlah mahasiswa STT NF yang turut membantu pelaksanaan di lapangan.
Yang membedakan media ini dari game edukasi pada umumnya adalah proses penyusunannya. “Game web dibuat berdasarkan kurikulum yang berlaku di SPS Rumah Pintar Antariksa, sehingga materi, alur permainan, dan bentuk aktivitasnya tidak dirancang secara umum, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran anak usia dini di sekolah itu,” ujar Misna.
Penyesuaian dengan kurikulum sekolah ini, jelas Misna, menjadi kunci agar media yang dikembangkan benar-benar terpakai oleh guru dalam proses belajar mengajar, bukan sekadar pelengkap. Game dirancang untuk mendukung materi numerasi yang biasa diajarkan, dengan tampilan dan aktivitas yang lebih visual, sederhana, dan dekat dengan karakteristik belajar anak usia dini.
Selama ini, pembelajaran numerasi di SPS Rumah Pintar Antariksa banyak mengandalkan praktik langsung dan pengerjaan worksheet. Cara tersebut tetap penting dalam pembelajaran anak usia dini, namun lewat kegiatan ini guru mendapat tambahan media untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih bervariasi.
Pada sesi pelatihan, tim STT NF mendampingi kepala sekolah dan guru kelas mempelajari cara mengakses media, memilih materi, menjalankan permainan, hingga mengintegrasikan game ke dalam kegiatan belajar di kelas. Guru juga berkesempatan mencoba langsung media tersebut, sekaligus memberi masukan soal tampilan, instruksi, dan kesesuaian aktivitas dengan kondisi anak di kelas masing-masing.
Sepekan kemudian, pendampingan implementasi digelar dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas, operator sekolah, serta murid TK A dan TK B. Pada tahap ini guru tidak lagi sekadar berlatih, tetapi langsung menerapkan media dalam kegiatan belajar bersama anak-anak.
Saat game digunakan di kelas, anak-anak terlihat lebih aktif mengikuti pelajaran. Guru mengajak anak menjawab, mencoba, dan berdiskusi melalui tampilan yang sudah disesuaikan dengan materi numerasi sekolah. Suasana kelas pun lebih interaktif karena anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tapi ikut terlibat dalam aktivitas.
“Media ini tidak dibuat terpisah dari kebutuhan sekolah. Sejak awal, game disusun dengan melihat kurikulum yang digunakan di SPS Rumah Pintar Antariksa, sehingga materi dan aktivitasnya bisa masuk ke dalam pembelajaran yang sudah berjalan di kelas,” ujar Misna.
“Guru tetap menjadi pusat pembelajaran di kelas, tapi tidak harus selalu disibukkan dengan menyiapkan worksheet. Dengan media yang sudah tersedia, guru bisa lebih fokus mendampingi anak, mengarahkan proses belajar, dan memastikan anak memahami materi,” katanya.
Kepala SPS Rumah Pintar Antariksa, Supriyatin A.Md. menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, media pembelajaran berbasis game yang diperkenalkan membantu guru menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan interaktif.
“Kami berterima kasih kepada tim pengabdian dari STT NF. Media pembelajaran berbasis game ini membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik. Anak-anak juga terlihat lebih antusias saat mengikuti kegiatan di kelas,” sambut Supriyatin.
“Anak-anak terlihat lebih fokus, aktif, dan bersemangat saat media digunakan di kelas. Kami berharap media ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari,” ujar salah seorang guru kelas, Ratri Kartikarini.
Setelah pelatihan dan pendampingan ini, tim STT NF akan melanjutkan perbaikan media berdasarkan hasil evaluasi dari pihak sekolah. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada penyempurnaan materi sesuai kurikulum SPS Rumah Pintar Antariksa serta perluasan ke materi pembelajaran lainnya.
Melalui kegiatan ini, STT NF berharap dapat terus menghadirkan inovasi pembelajaran yang sederhana, tepat guna, dan bermanfaat bagi satuan pendidikan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan memperkuat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran anak usia dini, khususnya pengenalan numerasi.[Mh]



