GELOMBANG panas melanda Eropa sejak akhir Mei dan puncaknya di Juni lalu yang menewaskan 1.300 orang. Kenapa Eropa begitu rentan dengan gelombang panas itu?
Eropa Selalu Dingin
Cuaca panas memang sangat tidak biasa di Eropa. Suhu rata-rata normalnya berkisar antara 10 hingga 13 derajat Celsius. Kalau pun Eropa memasuki musim panas, suhunya hanya berkisar antara 20 hingga 25 derajat Celsius.
Pada musim panas itu, meskipun matahari bersinar cerah, tetap saja udaranya tidak sepanas di negeri tropis seperti Indonesia yang mencapai di atas 30 derajat Celsius.
Jadi untuk ukuran kita, meskipun Eropa sudah musim panas, tetap saja akan terasa dingin dan sejuk.
Nah, bayangkan jika suhu udara di sana tiba-tiba berada di atas 40 derajat Celsius. Itu sama saja dengan empat kali lipat suhu yang biasa mereka alami.
AC Tidak Lazim di Eropa
Tidak seperti halnya di Asia dan sebagian AS, penyejuk ruangan atau AC tidak lazim di Eropa. Hal ini karena kebutuhannya tidak begitu penting. Toh tanpa AC pun udara di sana sudah sangat dingin. Justru yang mereka butuhkan penghangat ruangan.
Dari statistik yang ada, hanya 20 persen warga Eropa yang menggunakan AC. Selebihnya menggunakan sirkulasi alami.
Selain itu, pemerintah di sana begitu mengkhawatirkan dampak negatif dari pembuangan udara AC. Karena hal ini akan meningkatkan hawa panas ke lingkungan sekitar.
Jadi, tidak heran jika di masa gelombang panas baru-baru ini, warga Eropa berebut membeli AC. Bukan karena selama ini mereka tak mampu membeli, tapi lebih karena hal tidak biasa itu.
Tradisi Sirkulasi Udara Alami
Warga Eropa biasa secara turun-temurun membangun rumah-rumah mereka dengan memperhatikan sirkulasi udara alami. Misalnya, jendela yang banyak, dinding yang tebal, atap yang tinggi, dan lainnya.
Hal ini merupakan konsep membangun rumah yang dimaksudkan agar suhu ruangan tetap hangat. Mereka lebih memprioritaskan daya tahan tidak dingin daripada tidak panas, yaitu melalui tungku perapian di hampir setiap rumah.
Nah, ketika suhu panas mencapai ukuran yang tidak biasa, maka rumah-rumah mereka menjadi seperti ‘oven’ atau panggangan yang sangat panas. Terlebih jika rumah-rumah itu tanpa adanya AC. [Mh]


