ADA salah seorang sahabat Rasulullah yang dikenal karena keberanian, ketakwaan, dan kecintaannya yang luar biasa kepada Al-Qur’an. Ia adalah Abbad bin Basyir Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat dari kaum Anshar yang mengabdikan hidupnya untuk Islam sejak usia muda.
Abbad bin Basyir berasal dari Madinah dan termasuk golongan Anshar yang menyambut dakwah Rasulullah SAW dengan penuh keimanan. Ia dikenal sebagai sahabat yang memiliki suara merdu ketika membaca Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah SAW pernah memuji bacaan Al-Qur’annya karena dibaca dengan penuh kekhusyukan dan penghayatan.
Baca Juga: Kisah Hasan bin Ali, Cucu Rasulullah yang Mengutamakan Persatuan Umat
Abbad bin Basyir, Sahabat yang Menjaga Malam dengan Al-Qur’an dan Keimanan
Selain dikenal sebagai ahli ibadah, Abbad juga merupakan seorang pejuang yang tangguh. Ia turut serta dalam berbagai peristiwa penting bersama Rasulullah SAW. Keberaniannya di medan perang membuatnya dihormati oleh para sahabat lainnya. Namun yang membuat namanya begitu dikenang bukan hanya keberaniannya saat menghadapi musuh, melainkan keteguhannya dalam beribadah kepada Allah.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Abbad bin Basyir terjadi ketika ia mendapat tugas berjaga pada malam hari bersama Ammar bin Yasir dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah SAW. Saat itu, Abbad mengambil giliran pertama untuk berjaga.
Ketika suasana malam begitu tenang, ia memanfaatkan waktu tersebut untuk melaksanakan shalat. Dalam shalatnya, Abbad membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan. Tanpa disadari, seorang musuh yang mengintai dari kejauhan melihatnya lalu melepaskan anak panah ke arah tubuhnya.
Anak panah tersebut mengenai tubuh Abbad. Namun ia tidak membatalkan shalatnya. Ia mencabut anak panah itu dan melanjutkan bacaannya. Musuh kembali memanah untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Meski tubuhnya terluka dan darah mengalir, Abbad tetap berusaha menyelesaikan shalatnya.
Setelah selesai, barulah ia membangunkan Ammar bin Yasir dan memberitahukan keadaan yang terjadi. Ammar terkejut melihat darah yang membasahi tubuh sahabatnya itu. Ia bertanya mengapa Abbad tidak segera membangunkannya sejak panah pertama mengenai tubuhnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Abbad menjawab bahwa saat itu ia sedang membaca surat Al-Qur’an yang sangat ia cintai. Ia tidak ingin memutuskan bacaannya sebelum menyelesaikannya. Namun ketika khawatir keselamatan pasukan Muslim terganggu, ia akhirnya menghentikan shalatnya dan membangunkan Ammar.
Kisah tersebut menunjukkan betapa dalam kecintaan Abbad kepada Al-Qur’an dan ibadah. Baginya, hubungan dengan Allah lebih berharga daripada rasa sakit yang sedang dirasakan. Keimanan yang kuat membuatnya mampu bertahan dalam kondisi yang sulit sekalipun. [DW]





