SUARA mesin pesawat terdengar begitu nyaring dari luar. Tapi, begitu senyap dari dalam.
Krisis itu guncangan, ‘pukulan’, dan badai yang siap menjadikan perahu kita tenggelam. Tanpa keterampilan yang memadai, kita akan ikut tenggelam.
Satu, Jangan terlalu Sibuk Menyalahkan Orang Lain
Memang, pemimpin adalah sosok yang paling patut disalahkan jika terjadi salah urus. Kesalahan mereka menjadi bencana kita semua.
Namun begitu, urusan yang mencakup orang banyak dengan urusan yang harus kita hadapi adalah dua hal yang berbeda. Terlalu fokus dengan kesalahan ‘orang besar’ untuk masalah besar itu akan menelantarkan masalah yang ada di depan mata kita.
Jadi, sebelum meneropong yang jauh, petakkan dahulu masalah yang dekat: menyiasati penghematan rumah tangga, mencari penghasilan tambahan, dan tentu saja ketenangan menghadapi masalah.
Kalau masalah yang jauh dan besar itu masih sebatas wacana, masalah yang dekat dengan kita adalah nyata dan harus segera ditangani. Dahulukan masalah yang dekat dan nyata itu, sebelum disibukkan dengan yang di luar diri kita. Setidaknya sudah ada peta solusi.
Dua, Jangan Samakan Takaran Krisis dan Normal
Kita tak sedang hidup di ruang hampa. Krisis yang terjadi di sebuah negara, apa pun itu, akan mempengaruhi kehidupan kita.
Begitu pun ketika terjadi krisis ekonomi. Yang lebih dahulu kita lakukan adalah menyetel ulang standar kebutuhan hidup. Meskipun nantinya hasil setelan baru tidak kita sukai.
Misalnya, yang biasa sepekan sekali jalan-jalan ke mal, diubah menjadi satu bulan sekali. Apa pun dorongan hasrat kita untuk ingin berkunjung ke mal.
Dengan kata lain, kita yang mengikuti ukuran atau setelan baru. Bukan sebaliknya.
Tiga, Sikapi Krisis dengan Kacamata Iman dan Tawakal
Bisa dibilang, poin ketiga ini yang paling penting dari semua poin sebelumnya. Karena poin ini akan menstabilkan energi positif yang ada dalam jiwa kita. Yaitu, optimistis, bahagia, dan keridaan terhadap musibah.
Penyikapan ini memahamkan kita bahwa harus selalu ada baik sangka dengan semua keadaan. Seburuk apa pun keadaan itu.
Selain itu, penyikapan dengan kacamata ini juga memahamkan kita bahwa semua pasti ada hikmahnya. Karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Pasti ada kebaikan di balik ini. Nah, baik sangka inilah yang menjaga energi positif dalam jiwa kita.
Penyikapan ini membimbing kita untuk melihat masalah hidup dalam spektrum yang luas. Persis seperti perjalanan menumpang kereta api: adakalanya melewati pemandangan indah, terowongan gelap, jembatan ‘horor’, atau bukit-bukit terjal. Tapi, resultan vektornya insya Allah selalu baik dan bermanfaat. [Mh]





