Padahal kehilangan itu hanyalah soal penyematan dan atributisasi atas perasaan manusia. Cobalah dipikir dengan sesama. Apa yang sebenarnya dimiliki manusia?
Nyawa kita pemberian Allah. Tubuh kita hadiah dari Allah. Harta kita titipan Allah. Anak-anak kita karunia Allah. Rezeki, kesehatan, kekuatan, kemenangan, jabatan, posisi, kekayaan, semua adalah pemberian Allah.
Salah satu cara untuk belajar ikhlas adalah dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berduka. Tidak perlu memaksa diri terlihat kuat setiap saat.
Baca Juga: Simak Bekal untuk Menjalani Hidup yang Tak Kekal di Sini!
Bagaimana Cara Ikhlas dari Kehilangan yang Terjadi dalam Hidup?
Menangis, berdoa, dan mencurahkan isi hati kepada Allah merupakan langkah yang dapat membantu meringankan beban hati. Setelah itu, cobalah melihat setiap peristiwa dari sudut pandang yang lebih luas. Bisa jadi ada hikmah yang belum terlihat saat ini, tetapi akan dipahami pada waktu yang tepat.
Memperbanyak ibadah juga dapat membantu menumbuhkan keikhlasan. Membaca Al-Qur’an, berzikir, dan melaksanakan salat dengan khusyuk dapat memberikan ketenangan batin.
Ketika hati semakin dekat kepada Allah, seseorang akan lebih mudah menerima bahwa semua yang dimiliki di dunia hanyalah titipan-Nya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain itu, penting untuk tetap melanjutkan kehidupan. Kehilangan memang meninggalkan luka, tetapi bukan berarti hidup harus berhenti.
Tetaplah melakukan aktivitas yang bermanfaat, menjalin hubungan baik dengan keluarga dan sahabat, serta mengisi waktu dengan hal-hal positif.
Pada akhirnya, ikhlas adalah sebuah proses, bukan sesuatu yang datang dalam semalam. Setiap orang memiliki waktu yang berbeda untuk pulih.
Selama terus berusaha mendekat kepada Allah dan menerima takdir-Nya dengan sabar, perlahan hati akan menjadi lebih tenang. Dari kehilangan, seseorang dapat belajar tentang ketegaran, kesabaran, dan keyakinan bahwa Allah selalu memiliki rencana terbaik bagi hamba-Nya. [DW]
Ditulis oleh: Ustadz Cahyadi Takariawan dalam telegram grup Majelis_MANIS





