RELAWAN GPCI Dompet Dhuafa, Ustaz Herman Budianto, membagikan kisah yang membekas selama mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla untuk Palestina. Pengalaman tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers bertajuk “Pengorbanan Besar dan Kemanusiaan Hadir Dalam Kurban 1447 H” di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dengan nada tenang, Herman menceritakan bagaimana identitasnya sebagai relawan pendukung Palestina justru membuat dirinya mendapat perlakuan lebih keras saat ditahan.
Menurut Herman, situasi mulai berubah ketika petugas melihat dirinya masih mengenakan kaus Global Sumud Flotilla.
“Mereka lihat saya masih pakai baju Global Sumud Flotilla, lalu marah dan memaksa saya melepas baju itu. Setelah itu ada siksaan-siksaan yang saya alami,” ungkapnya.
Herman Budianto Cerita Pengalaman di Misi Global Sumud Flotilla, Pengorbanan Ini Tidak Sia-Sia
Bukan hanya pakaian yang menjadi perhatian. Herman mengatakan media sosial pribadinya juga diperiksa. Di sana terlihat berbagai unggahan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina serta keterlibatannya dalam aksi kemanusiaan bersama Dompet Dhuafa.
“Saya berani menunjukkan media sosial saya karena memang banyak aktivitas dan suara dukungan untuk Palestina, juga kegiatan kemanusiaan Dompet Dhuafa. Ternyata itu juga jadi alasan saya mendapat perlakuan lebih berat,” katanya.
Herman lalu menggambarkan kondisi yang dialami selama penahanan. Salah satu yang paling berat, menurutnya, adalah ketika para tahanan dipaksa berjalan dengan posisi membungkuk.
“Selama di sana kami dipaksa berjalan seperti posisi rukuk. Kaki gemetar karena jalannya harus seperti itu terus,” ujarnya.
Ia juga menceritakan bagaimana tangan para tahanan diborgol ke belakang, lalu ditarik ke atas oleh beberapa orang.
“Karena tangan di belakang, itu memudahkan mereka menarik dan menyakiti. Rasanya seperti memang disengaja untuk membuat tahanan kesakitan,” tutur Herman.
Meski pengalaman tersebut berat, Herman memilih melihatnya sebagai bagian dari perjuangan kemanusiaan yang lebih besar. Baginya, pengorbanan para relawan tidak boleh berhenti hanya sebagai cerita penderitaan.
“Alhamdulillah sekarang sudah semakin baik. Yang paling penting, apa yang kita rasakan ini tidak sia-sia dan semoga semakin menguatkan perjuangan Palestina. Dunia jadi bisa melihat apa yang terjadi di sana dan makin banyak yang tergerak untuk peduli,” katanya.
Di akhir keterangannya, Herman juga mengingatkan agar perjuangan kemanusiaan tetap dijalani dengan hati yang tulus.
“Kita terus berusaha menjaga hati, jangan sampai muncul kesombongan atau kepalsuan yang justru merusak niat perjuangan,” pesannya.
Kesaksian Herman menjadi salah satu sorotan dalam konferensi pers yang tidak hanya membahas pengalaman relawan Global Sumud Flotilla, tetapi juga mengangkat nilai pengorbanan dan kepedulian yang menjadi semangat kurban tahun ini. [Din]



