RELAWAN Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Dompet Dhuafa, Ronggo Wirasanu, membagikan pengalaman penahanan yang dialaminya saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Palestina.
Kesaksian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers bertajuk “Pengorbanan Besar dan Kemanusiaan Hadir Dalam Kurban 1447 H” yang digelar di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Ronggo mengungkapkan dirinya diintersep pada 19 Mei 2026, yang disebutnya sebagai hari terakhir dari rangkaian intersep terhadap armada kemanusiaan tersebut. Menurutnya, ia ditahan satu malam di kapal militer dan satu malam di sel tahanan.
“Kalau saya termasuk yang terakhir diintersep, jadi tidak terlalu lama. Saya satu malam di kapal militer dan satu malam di sel. Yang lebih berat justru dialami kawan-kawan yang diintersep lebih awal karena mereka bisa sampai tiga hari ditahan di kapal militer dan mengalami penyiksaan,” ujar Ronggo.
Ronggo Wirasanu, Relawan GPCI Dompet Dhuafa Ungkap Pengalaman Penahanan dalam Misi Global Sumud Flotilla
Ia menuturkan perlakuan keras dialami para relawan di sejumlah titik transit. Menurut pengakuannya, sebelum masuk kapal militer, para tahanan mengalami intimidasi dan kekerasan, begitu pula saat perpindahan menuju fasilitas imigrasi hingga perjalanan ke Penjara Ktziot di Israel yang ditempuh sekitar empat jam menggunakan truk tahanan.
Ronggo menggambarkan kondisi penahanan yang menurutnya jauh dari layak. Salah satu ruang tahanan disebut diisi hingga 25 orang, sementara sebagian lainnya ditempatkan di ruang sempit menyerupai kerangkeng.
“Tempat transit itu tidak manusiawi. Kami ditaruh di kerangkeng kecil yang ditumpuk-tumpuk. Saya bahkan mencium aroma kotoran anjing di sana,” katanya.
Ia juga menceritakan adanya tayangan video tanpa sensor yang diputar saat proses pembukaan borgol di fasilitas penahanan. Menurutnya, tayangan tersebut disertai komentar yang diarahkan kepada para aktivis.
Selama berada di kapal militer, Ronggo memilih tidak makan sebagai bentuk solidaritas bersama sejumlah aktivis kemanusiaan lain yang melakukan mogok makan.
“Di kapal saya tidak makan sama sekali karena banyak aktivis Global Sumud Flotilla melakukan mogok makan. Saya juga tidak ingin makan makanan dari Israel,” ujarnya.
Bagi Ronggo, keterlibatannya dalam misi tersebut merupakan bentuk kontribusi kemanusiaan melalui kemampuan yang dimilikinya di bidang videografi.
“Saya bukan siapa-siapa dalam perjalanan ini, tapi saya bisa ikut karena keahlian di bidang video. Lewat kemampuan itu saya ingin berjuang menyuarakan kemerdekaan Palestina,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, GPCI dan Dompet Dhuafa menegaskan bahwa pengorbanan para relawan kemanusiaan menjadi bagian dari upaya menyuarakan solidaritas global terhadap warga Palestina. [Din]





