KETIDAKPASTIAN bisa terjadi dalam keadaan apa saja. Jangan terombang-ambing. Carilah yang pasti dari ketidakpastian.
Ada peristiwa musibah besar di masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Yaitu, terjadinya wabah tha’un di wilayah negeri Syam. Sekitar 25 ribu orang syahid dalam wabah itu. Termasuk sahabat-sahabat utama, seperti Abu Ubaidah bin Zarrah dan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhum.
Wabah itu disebut Amwas. Hal ini karena berawal dari sebuah daerah yang bernama Amwas. Lokasinya di Palestina, antara Baitul Maqdis dan Ramalah. Wabah ini terjadi setelah sekitar empat tahun masa kepemimpinan Umar bin Khaththab sebagai khalifah: tahun 638 masehi.
Mendengar wabah itu, Khalifah Umar dan rombongan langsung berangkat ke negeri Syam. Tapi di tengah perjalanan, mereka bermusyawarah tentang adakah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wabah.
Salah seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, mengatakan kalau dirinya pernah mendengar sabda Nabi tentang wabah. Menurutnya, seperti yang disabdakan Nabi, kalau ada wabah di suatu tempat maka kita dilarang masuk ke daerah itu. Dan ketika kita sedang mengalami wabah, kita dilarang keluar.
Hal ini pun disampaikan gubernur Syam saat itu: Abu Ubaidah bin Zarrah radhiyallahu ‘anhu. Bahwa, tidak ada dari Madinah yang bisa masuk ke Syam, dan begitu pun sebaliknya: yang ada di Syam tetap berada di Syam.
Waktu itu, banyak orang yang mencibir Khalifah Umar karena dianggap lari dari kematian. Kemudian Khalifah Umar menjelaskan bahwa bukan lari dari kematian, tapi menghindar dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain. Artinya, sebagai upaya ikhtiar kebaikan.
Saat itu, seluruh sahabat dan keluarganya yang berada di wilayah Syam awalnya mengalami ketidakpastian. Karena ini peristiwa wabah yang pertama, mereka tidak tahu obatnya. Sementara, mereka tidak diperbolehkan keluar wilayah.
Mereka bertawakal kepada Allah untuk siap menghadapi apa pun, termasuk kematian. Karena, kematian itu hal yang pasti. Kematian hanya soal waktu, apakah mati dalam syahid fi sabilillah atau mati karena sakit wabah.
Itulah yang mereka lakukan di masa wabah. Mereka juga tahu bahwa Nabi pernah mengatakan: di antara sebab kematian yang membuat orang masuk surga adalah mati karena wabah.
**
Berusahalah untuk tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian. Setidaknya, ada optimisme untuk bisa keluar dari ketidakpastian.
Tawakal itu bukan pasrah, tanpa melakukan apa-apa. Ikhtiar itu berserah diri kepada Allah setelah berusaha keras melakukan perubahan. [Mh]





