IKHTIAR itu perintah Allah. Bukan ikhtiar yang memberikan solusi, tapi Yang Memberikan perintah: Allah subhanahu wata’ala.
Sebuah peristiwa menarik sepanjang zaman. Sayyidah Hajar dan bayinya: Ismail alaihissalam, ditempatkan Nabi Ibrahim alaihissalam di sebuah lembah yang tandus dan sepi. Bukan karena kemauan Nabi Ibrahim. Melainkan, karena memang seperti itulah perintah Allah subhanahu wata’ala
Selang beberapa waktu, perbekalan yang ada pun habis. Terutama persediaan air yang sangat dibutuhkan di padang pasir yang terik dan kering. Tapi, mau mencari air kemana?
Sayyidah Hajar bukan wanita sembarangan. Ia yakin bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu bersama keduaya. Ia hanya harus berdoa dan berusaha.
Bayi Ismail pun diletakkan di tempat yang teduh. Sementara, Sayyidah Hajar menuju bukit shafa untuk mencari air. Sementara itu, bayi Ismail sudah menangis karena kehausan.
Di bukit Shafa, Sayyidah Hajar melihat seperti ada air di bukit Marwa. Kedua bukit itu terpisah dengan jarak sekitar 400 meteran. Ia pun berlari kecil untuk bisa segera mendapatkan air di bukit Marwa.
Meski tak mendapatkan hasil, Sayyiah Hajar tak putus asa. Ia yakin bahwa Allah akan memberikannya solusi. Dari bukit Marwa, ia melihat seperti ada air di arah bukit Shafa. Ia pun berlari kecil menuju Shafa. Dan seterusnya.
Mondar-mandir di kedua bukit itu dilakukan Sayyidah Hajar sebanyak tujuh kali. Ia harus berlari kecil karena bayi Ismail terus menangis karena kehausan.
Di luar dugaannya, air justru keluar persis di kaki bayi Ismail yang sedang menangis. Hentakan dua kakinya yang mungil seolah membuka jalan keluar air ke permukaan bumi. Padahal, hal itu dilakukan Malaikat Jibril atas izin Allah subhanahu wata’ala.
Betapa bersyukur dan gembiranya Sayyidah Hajar mendapati air yang terus keluar dari dalam perut bumi. Ia membuat semacam kubangan agar air bisa berkumpul di satu tempat.
Sumber air itu akhirnya menjadi sumur yang tak pernah kering sepanjang masa. Airnya bukan hanya jernih, tapi mengandung mineral yang sangat tinggi. Bisa mengenyangkan dan menyehatkan.
Sumber itu pula yang akhirnya menjadi daya tarik banyak orang di sekitar jazirah Arab saat itu. Lambat laun, daerah itu menjadi komunitas masyarakat tersendiri. Semakin besar dan ramai. Dari situ pula, rezeki terus mengalir untuk Sayyidah Hajar dan bayi Ismail sebagai ‘pemilik’ sumber air.
**
Ikhtiar itu bukan dengan logika. Melainkan, dengan keyakinan yang penuh bahwa Allah akan memberikan solusi.
Dalam firman-Nya, Allah hingga pengulangan dua kali meyakinkan kita: sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Yang dibutuhkan dalam ikhtiar itu tiga: keyakinan, doa, dan keberanian melangkah. Sekiranya hanya dengan logika, rasanya Sayyidah Hajar tak akan pernah mau capek-capek mencari air di tanah yang tandus dan kering. Karena itu nyaris tak masuk akal. [Mh]



