KEHIDUPAN para pemimpin yang identik dengan kemewahan dan kekuasaan, namun berbeda dengan sosok Sa’id bin Amir al-Jumahi yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam ini justru dikenal karena kesederhanaannya yang luar biasa.
Meski dipercaya menjadi gubernur pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, beliau memilih hidup sederhana dan jauh dari kemegahan dunia. Ketakwaan, rasa takut kepada Allah, serta sifat zuhud yang dimilikinya membuat Sa’id bin Amir Al-Jumahi dihormati oleh masyarakat dan para sahabat Nabi lainnya.
Seorang pemuda bernama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahi adalah satu dari ribuan muallaf yang datang dari daerah Tan’im (daerah di luar Makkah) demi memenuhi undangan dari pemuka Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin ‘Ady salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara menipunya.
Baca Juga: Kisah Tabiin Terbaik Uwais al Qarni
Mengenal Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahi yang Hidup Sederhana Meski Menjadi Gubernur
Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Said mampu menerobos kerumunan manusia saat itu, sehingga ia dapat berdiri sejajar dengan pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan lainnya menyaksikan pemandangan itu.
Kesempatan itu membuat Said dapat melihat para tawanan suku Quraisy yang sedang terikat. Tangan para wanita, anak-anak, dan pemuda mendorong tubuh Said masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku Quraisy balas dendam kepada Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam melalui diri Khubaib dan sebagai balasan dari para anggota suku Quraisy yang meninggal saat perang Badar.
Setelah Khubaib terbunuh oleh kaum Quraisy di atas tiang kayu dengan meninggalkan luka bekas pedang dan tombak yang tidak bisa dihitung oleh manusia, pemuda yang hampir baligh bernama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahi, tidak pernah bisa menghilangkan bayangan Khubaib sesaatpun.
Khubaib mengajarkan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di jalan akidah hingga meninggal. Pada saat itulah Allah Subhanahu Wata’ala melapangkan dada Said untuk memeluk Islam.
Ia berjalan untuk menghampiri kerumunan manusia dan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, dan ia berikrar meninggalkan berhala yang pernah disembahnya serta ia mengumumkan bahwa dirinya telah masuk Islam.
Said turut berhijrah ke Madinah, setelah Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam wafat, ia menjadi satu-satunya contoh bagi orang beriman yang berniat membeli kehidupan akhirat dengan dunianya. Ia rela mendahulukan Allah Subhanahu Wata’ala dan pahala yang akan diberikan daripada keinginan semua nafsu syahwat.
Sa’id bin ‘Amir al-Jumahi diangkat menjadi gubernur wilayah Hims pada masa pemerintahan Umar bin Khattab karena dikenal sebagai sahabat yang saleh, jujur, dan memiliki akhlak mulia. Awalnya, Sa’id bin ‘Amir sempat menolak jabatan tersebut karena takut tidak mampu menjalankan amanah dengan baik di hadapan Allah. Namun, Umar bin Khattab terus meyakinkannya bahwa umat membutuhkan pemimpin yang adil dan bertakwa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Setelah menerima amanah itu, Sa’id bin ‘Amir menjalankan tugasnya dengan penuh kesederhanaan. Ia tidak hidup mewah meski memiliki kedudukan tinggi sebagai gubernur. Beliau bahkan sering membantu pekerjaan rumah sendiri dan lebih mengutamakan pelayanan kepada rakyat dibanding kepentingan pribadi.
Dari kisah ini, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa jabatan adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa takut kepada Allah, bukan untuk mencari kemewahan atau pujian manusia. [DW]





