ISTRI itu teman hidup, pasangan hidup, penyempurna ruang hati, peredam syahwat, dan ibu dari anak-anak suami.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu banyak orang-orang hebat dari generasi sahabat. Menariknya, meskipun poligami boleh, umumnya mereka hidup dengan satu istri. Mereka begitu menyayangi istri.
Hal itu antara lain terlihat dari empat orang terdekat Nabi. Yaitu, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.
Keempat orang itu, meskipun pernah hidup dengan lebih dari dua istri, tapi tidak dalam waktu yang sama. Ada yang menikah lagi karena cerai atau karena ditinggal mati istri.
Abu Bakar ash-Shiddiq misalnya, beliau pernah hidup dengan tiga istri. Istri pertama bernama Qutailah yang tidak mau masuk Islam. Keduanya pun bercerai.
Kemudian Abu Bakar menikah lagi dengan Ummu Rumman radhiyallahu ‘anha. Tapi, ibu yang melahirkan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ini wafat ketika Abu Bakar masih hidup.
Abu Bakar pun menikah lagi dengan janda beranak 3, namanya Asma binti Umais radhiyallahu ‘anha. Dari pernikahan ini lahir seorang putra bernama Muhammad bin Abu Bakar.
Hal yang hampir sama dilakoni Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.
Yang menarik adalah seorang sahabat yang bernama Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. Istrinya bernama Ummu Darda radhiyallahu ‘anha. Keduanya seperti sijoli yang begitu romantis.
Dikisahkan, sepanjang pernikahan keduanya yang berlangsung puluhan tahun, Abu Darda tak melakukan poligami. Bahkan ketika istrinya wafat. Saat itu usianya sudah di atas 60 tahun.
Sejumlah sahabatnya menyarankan untuk menikah lagi. Setelah dikondisikan, akhirnya Abu Darda mau menikah lagi. Itu pun setelah disampaikan kalau calon istrinya seorang yatim yang hidup sebatang kara tanpa keluarga.
Abu Darda pun menikah lagi. Di luar dugaan, meskipun terpaut jauh dari usia, keduanya begitu romantis. Begitu banyak tulisan romantis dari keduanya yang menunjukkan rasa cinta suami istri yang sangat ideal.
Antara lain, ‘pancingan’ dari Abu Darda kalau ia wafat, ia persilakan istrinya yang masih sangat muda itu untuk menikah lagi. Tapi, jawaban istrinya begitu tegas. Ia tak akan mau menikah lagi hingga bisa bertemu dengan Abu Darda di surga nanti.
Dan itu bukan ungkapan gombal. Ketika Abu Darda wafat, istrinya yang saat itu masih berusia sekitar dua puluhan tahun tidak mau menikah lagi. Meskipun Khalifah Muawiyah melamarnya.
**
Musuh-musuh Islam menuduh Islam merampas hak perempuan. Antara lain karena tuduhan buruk tentang poligami Nabi.
Padahal, sekiranya Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha tidak wafat, apa Rasulullah mau berpoligami? Dan istri kedua Nabi, setelah Sayyidah Khadijah wafat, adalah Sayyidah Saudah bintii Zam’ah radhiyallahu ‘anha.
Saudah adalah janda dengan empat anak. Usianya sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Orang yang paling paham tentang hidup Nabi adalah para sahabat terdekatnya. Meskipun Nabi berpoligami dengan banyak istri sebagai kekhususan, para sahabat itu umumnya hidup dengan satu istri.
Islam mengajarkan tentang dua ikatan yang harus selalu dijaga seorang muslim. Yaitu, ikatan kepada Allah (hablum minallah) dan ikatan dengan manusia (hablum minannas). Dan, manusia yang sangat dekat dengan suami adalah istri.
Sayangi dan cintai istri bukan hanya dalam basa-basi. Melainkan, dengan tulus sepenuh hati. Inilah di antara ciri generasi cinta istri. [Mh]





