KALURAHAN Banaran di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan wisata minat khusus, dari mengamati burung migran, penyu, sampai konservasi mangrove.
Secara garis besar, konsep wisata minat khusus tersebut berbasis konservasi, edukasi lingkungan, dan kuliner. Wisatawan pun bisa terlibat langsung dengan kehidupan warga.
Dikutip dari berbagai sumber, Ketua Desa Wisata Banaran, Duta Andika mengatakan, pengembangan wisata di wilayahnya berangkat dari potensi yang selama ini telah hidup di tengah masyarakat.
Semua kegiatan wisata dikembangkan menjadi daya tarik wisata edukasi yang mengundang wisatawan datang ke kawasan pesisir, meski tidak semasif wisata massal.
Kawasan pesisir Banaran termasuk titik persinggahan burung migran di sepanjang pantai selatan Jawa hingga Bali.
Saat musim migrasi, kawasan itu mulai menarik pengamat burung dan pegiat fotografi alam untuk datang. Selain itu, konservasi penyu menjadi salah satu aktivitas unggulan yang ditawarkan kepada wisatawan.
Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pantai, tapi juga diajak memahami proses penyelamatan telur penyu hingga pelepasliaran tukik (anak penyu).
Baca juga: Berikut Beberapa Tempat Wisata di Sekitar Pusat Kota Semarang yang Bisa Kamu Kunjungi
Wisata Minat Khusus di Kulon Progo, Yogyakarta
Bila ingin lebih dari itu, wisatawan dapat menikmati proses pencarian dan pemindahan telur penyu ke lokasi penetasan yang lebih aman.
Setelah menetas, tukik dirawat selama sekitar dua minggu sebelum dilepasliarkan ke laut bersama wisatawan.
Pengalaman senada juga ditawarkan melalui wisata mangrove. Pengunjung diajak mengenal proses pembibitan mangrove mulai dari penyemaian biji, perawatan bibit, hingga penanaman langsung di kawasan pesisir Banaran dan tepian muara Sungai Progo.
Tak hanya itu, wisatawan juga diperkenalkan pada pemanfaatan hasil mangrove yang mulai dikembangkan masyarakat setempat menjadi produk olahan.
Di tengah pengembangan wisata konservasi tersebut, Banaran juga mulai mengangkat potensi kuliner lokal melalui Kampung Lele Asap di Dusun Jati. Kampung wisata kuliner itu diresmikan pemerintah pada Rabu (6/5/2026).
Kuliner lele asap yang selama ini dikenal sebagai usaha rumahan masyarakat perlahan diarahkan menjadi daya tarik wisata baru.
Tradisi pengasapan lele telah berlangsung turun-temurun sejak generasi terdahulu sebagai cara agar ikan memiliki cita rasa berbeda sekaligus lebih awet.
Saat ini terdapat sekitar delapan pengrajin lele asap di Dusun Jati yang tergabung dalam tiga kelompok pengolah dan pemasar.
Produksi di padukuhan tersebut dapat mencapai sekitar setengah ton per hari pada hari biasa. Sebagian besar produksi rumahan itu dipasarkan ke pasar-pasar tradisional di wilayah Bantul dan Kulon Progo.
Sebagian lainnya dipasok ke warung makan sekitar desa yang menyajikan menu tradisional, terutama mangut lele asap yang menjadi kuliner khas setempat.
Pengembangan Kampung Lele Asap dilakukan agar kuliner khas tersebut tidak hanya menjadi komoditas konsumsi, tapi juga bagian dari pengalaman orang berwisata ke Banaran.
Berangkat dari daya tarik tersebut, pengelola desa wisata mulai menyusun berbagai paket wisata berbasis aktivitas warga.
Dalam paket tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati lele asap, tapi juga diajak melihat proses pengasapan, membersihkan ikan, hingga mengikuti aktivitas penjualan ke pasar bersama warga pada dini hari.
Pegalaman kukiner itu melengkapi seluruh pengalaman wisata itu dirancang saling terhubung. Wisatawan dapat mengombinasikan aktivitas konservasi mangrove, edukasi burung migran, pelepasliaran tukik, dan wisata kuliner lele asap dalam satu rangkaian kunjungan.
Wisatawan yang menginap sedikitnya dua malam di Banaran dapat menikmati paket lengkap mulai dari kegiatan konservasi pesisir hingga pengalaman mengikuti proses produksi dan pemasaran lele asap.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Setelah menikmati berbagai aktivitas tersebut, wisatawan juga dapat menjadikan lele asap sebagai oleh-oleh khas Kulon Progo.
Selain wisata konservasi dan kuliner, Desa Wisata Banaran juga mulai menyiapkan pengembangan wisata baru di kawasan sekitar Jembatan Banaran dan saluran irigasi peninggalan Jepang, yang direncanakan nantinya menjadi lokasi aktivitas kayak dan kano.
Potensi ekowisata lain, seperti pengembangan wisata kepiting bakau, juga masih dalam tahap perencanaan.
Meski demikian, pengembangan wisata di kawasan tersebut masih menghadapi tantangan, terutama persoalan sampah kiriman di wilayah muara pantai selatan. Warga disebut rutin membersihkan kawasan pantai setiap hari, meski sampah dari aliran sungai terus datang kembali.
Selain itu, abrasi juga terus menggerus kawasan Pantai Trisik yang dahulu dikenal sebagai salah satu pantai berpasir hitam dengan panorama khas laut selatan.
Di tengah berbagai tantangan itu, Desa Wisata Banaran memilih tetap mengembangkan pariwisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat, dengan harapan wisata minat khusus dapat menjadi identitas kuat kawasan pesisir selatan Kulon Progo. [Din]



