DALAM ajaran Islam, konsep syukur tidak hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga tercermin dalam sikap manusia terhadap sesamanya.
Hal ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, di mana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia pada hakikatnya belum bersyukur kepada Allah.
Pesan ini menunjukkan keterkaitan erat antara dimensi spiritual dan sosial dalam praktik keimanan.
Hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi juga menguatkan makna tersebut, bahwa ketidakmampuan menghargai kebaikan orang lain mencerminkan lemahnya rasa syukur kepada Tuhan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Para ulama kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut.
Al-Khathabi menafsirkan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk mengapresiasi setiap kebaikan yang diterima.
Bentuknya bisa berupa ucapan yang baik, pujian yang tulus, maupun doa bagi orang yang telah berbuat kebaikan.
Sementara itu, Ibn al-Athir menjelaskan bahwa syukur kepada Allah tidak akan sempurna apabila seseorang mengabaikan kebaikan manusia.
Syukur kepada Manusia sebagai Cermin Syukur kepada Allah
Dengan kata lain, hubungan horizontal antarmanusia menjadi bagian penting dari kualitas hubungan vertikal dengan Tuhan.
Praktik bersyukur kepada manusia juga memiliki bentuk konkret.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk membalas kebaikan jika mampu.
Jika tidak, maka menyebut dan mengakui kebaikan tersebut sudah termasuk bentuk syukur.
Baca juga: Syariat dan Tatacara Syukuran Aqiqah
Bahkan, dalam riwayat Usamah bin Zaid, ucapan “Jazakallah khairan” disebut sebagai bentuk pujian yang mendalam dan bernilai tinggi.
Dengan demikian, syukur dalam Islam tidak bersifat abstrak semata, tetapi terwujud dalam interaksi sosial yang nyata.
Menghargai, mengakui, dan membalas kebaikan orang lain menjadi bagian integral dari ajaran tersebut.
Sikap ini tidak hanya memperkuat hubungan antarmanusia, tetapi juga mencerminkan kualitas keimanan seseorang secara menyeluruh.[Sdz]




