• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 11 Juli, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Kartini dan Amanah Peradaban: Memuliakan Ilmu, Menguatkan Bangsa

21/04/2026
in Berita
Kartini dan Amanah Peradaban: Memuliakan Ilmu, Menguatkan Bangsa

Anis Byarwati

69
SHARES
531
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

KARTINI dan amanah peradaban: Memuliakan Ilmu, Menguatkan Bangsa, ditulis oleh: Anis Byarwati (Anggota DPR RI – Fraksi PKS).

Nama Raden Ajeng Kartini senantiasa hadir dalam ingatan kolektif bangsa. Namun, Kartini bukan sekadar simbol perjuangan perempuan. Ia adalah suara nurani yang mengingatkan bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada pemuliaan manusia melalui pendidikan, akhlak, dan kualitas kehidupan.

Kartini hidup dalam keterbatasan zamannya. Akses pendidikan sangat terbatas, ruang gerak perempuan dibatasi adat, dan kesempatan berkembang tidak terbuka luas. Namun dari ruang sempit itulah lahir gagasan besar: bahwa manusia memiliki hak untuk tumbuh melalui ilmu dan kemuliaan budi.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menegaskan pentingnya pendidikan sebagai jalan membangun peradaban.

Pandangan ini selaras dengan firman Allah SWT: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu bukan sekadar kecerdasan, tetapi jalan menuju kemuliaan manusia.

Baca juga: Kartini dan Kebebasan Berpikir

Kartini dan Amanah Peradaban: Memuliakan Ilmu, Menguatkan Bangsa

Hari ini, kemajuan pendidikan menunjukkan perkembangan yang patut disyukuri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7–12 tahun telah mencapai lebih dari 99 persen, dan pada usia 13–15 tahun berada di kisaran 95 persen. Bahkan pada kelompok usia 16–18 tahun, partisipasi pendidikan terus meningkat mendekati 80 persen. Ini menunjukkan bahwa akses pendidikan dasar dan menengah telah semakin merata.

World Bank dalam Indonesia Country Gender Assessment juga mencatat bahwa Indonesia telah mencapai paritas dalam pendidikan dasar, artinya anak laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang relatif setara untuk mengakses pendidikan pada jenjang awal.

Selain itu, angka partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren meningkat, bahkan di sejumlah wilayah telah melampaui laki-laki.

Capaian ini patut diapresiasi sebagai wujud nyata dari gagasan Kartini yang menempatkan pendidikan sebagai kunci kemajuan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pendidikan tersebut telah menghadirkan kualitas dan kemanfaatan?

Kemajuan tidak cukup diukur dari angka partisipasi. Data BPS juga menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah perempuan masih berada di kisaran 8–9 tahun, yang berarti sebagian belum menyelesaikan pendidikan menengah secara utuh. Di sisi lain, terdapat kesenjangan antarwilayah, terutama antara perkotaan dan perdesaan, yang menunjukkan bahwa pemerataan kualitas masih menjadi tantangan.

Dalam perspektif yang lebih luas, kemajuan perempuan perlu dilihat dari kualitas peran dalam kehidupan. Pertama, kualitas pendidikan yang membentuk generasi berilmu dan berakhlak. Kedua, ketahanan keluarga, di mana perempuan berperan sebagai pendidik pertama. Ketiga, kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi kualitas manusia. Keempat, kontribusi sosial dalam membangun masyarakat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).

Hadits ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan adalah kemanfaatan. Dalam hal ini, perempuan memiliki peran strategis dalam menghadirkan kemanfaatan tersebut, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa kemajuan telah terjadi, tetapi belum sepenuhnya merata. Masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan, tantangan dalam menjaga keseimbangan peran keluarga dan sosial, serta kebutuhan untuk memperkuat nilai dalam arus modernitas.

Di sinilah relevansi Kartini menjadi penting. Ia tidak hanya mengajarkan pentingnya membuka akses, tetapi juga menjaga arah. Kemajuan tanpa nilai akan kehilangan makna, sementara nilai tanpa kemajuan akan tertinggal.

Allah SWT berfirman: “Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut” (QS. Al-Baqarah: 228). Ayat ini menegaskan prinsip keseimbangan dalam kehidupan.

Kartini memberi teladan bahwa perubahan dimulai dari pemikiran, keteguhan, dan kesadaran akan tanggung jawab. Ia membuka jalan, tetapi jalan itu harus terus dijaga dan disempurnakan.

Pada akhirnya, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan amanah yang harus dilanjutkan. Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari capaian lahiriah, tetapi dari kualitas manusia dan nilai yang dijaganya.

Selama pendidikan terus dimuliakan, keluarga terus dikuatkan, dan nilai tetap dijaga, maka semangat Kartini akan tetap hidup—sebagai cahaya yang menerangi perjalanan peradaban Indonesia.[ind]

Tags: Kartini dan Amanah Peradaban: Memuliakan IlmuMenguatkan Bangsa
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

ParagonCorp Hadirkan Ruang Refleksi di Hari Kartini sekaligus Perkuat Women’s Space sebagai Wadah Kepemimpinan Perempuan

Next Post

Peran Sekolah dalam Mendidik Anak dan Orang tua

Next Post
Adab Pembina dalam Menasihati Murid

Peran Sekolah dalam Mendidik Anak dan Orang tua

Peran Ayah dan Tantangan Pembentukan Karakter Anak Laki-Laki

Peran Ayah dan Tantangan Pembentukan Karakter Anak Laki-Laki

7 Hal yang Bisa Dilakukan dalam Masa Penantian Jodohmu

RA Kartini dan Ustazah Yoyoh Yusroh Rahimahullah

  • Bun, Yuk Kenali Gangguan Pencernaan pada 1.000 Hari Pertama Bayi

    124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8850 shares
    Share 3540 Tweet 2213
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1077 shares
    Share 431 Tweet 269
  • RS Permata Jonggol Hadirkan BQS, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Cinta Al-Qur’an

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11567 shares
    Share 4627 Tweet 2892
  • Selebgram Larissa Chou Menggugat Cerai Sang Suami, Pentingnya Menjaga Amanah Pernikahan

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Tuwailah binti Aslam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Mulia Rasulullah

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Keutamaan Doa Rodhitu Billahi Robba

    3455 shares
    Share 1382 Tweet 864
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3985 shares
    Share 1594 Tweet 996
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4672 shares
    Share 1869 Tweet 1168
  • Nama-nama Bayi yang Dibolehkan dan Dilarang dalam Islam

    281 shares
    Share 112 Tweet 70
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga