ISRAEL diyakini banyak pihak berada di balik serangan AS ke Iran. Alasannya macam-macam: mulai dari uranium dan nuklir hingga ‘lagu lama’ tentang terorisme.
Perang di Timur Tengah menyadarkan dunia bahwa Israel ‘biang kerok’-nya. Netanyahu begitu gencar bolak-balik ke AS untuk mengajak Trump ikut dalam perang. Sebenarnya, apa yang diincar Israel di balik permusuhannya dengan Iran?
Alasan Stereotif tentang Dajjal
Banyak pihak, terutama di kalangan agamawan, memahami betul bahwa di balik serangan incaran Israel ke Iran adalah ‘penyambutan’ Dajjal. Hal ini karena menurut sebagian riwayat bahwa Dajjal akan muncul di Khurasan. Saat ini Khurasan masuk dalam wilayah Iran.
Mungkin saja ini benar. Artinya, permusuhan puluhan tahun Israel terhadap Iran adalah karena obsesi mereka tentang kemunculan Dajjal di wilayah Iran. Padahal, Dajjal akan menjadi ‘raja’ untuk bangsa Israel yang istananya ada di Yerusalem.
Jika Iran masih ada seperti saat ini, sulit rasanya melakukan ‘penyambutan’ untuk kemunculan Dajjal di wilayah itu. Karena itu, Iran harus dimusnahkan.
Alasan Kendali Ekonomi
Alasan lain yang ingin diraih Israel dari mentarget Iran boleh jadi bukan tentang militer atau lainnya. Melainkan, tentang kendali ekonomi dunia.
Pusat ekonomi dunia adalah pada sektor energi. Dan sektor energi yang begitu mempengaruhi kaya atau miskinnya dunia adalah Timur Tengah.
Kalau difokuskan lebih spesifik lagi adalah Timur Tengah di bagian teluk. Karena itu, negara-negara teluk tak akan luput dari kendali Israel: militer maupun ekonomi.
Bisa dibilang, hanya Iran di wilayah itu yang masih bertahan dari kungkungan Israel. Sementara negara-negara teluk lainnya, termasuk mungkin Arab Saudi, sudah masuk kendali itu.
Setidaknya hal ini tercermin dari heboh Bulan September 2023. Saat itu, tidak ada angin atau hujan, tiba-tiba MBS menyatakan pada dunia bahwa negaranya akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Pernyataan itu saling bersahut positif antara pihak MBS dengan Israel yang diwakili Netanyahu. Tidak main-main, Netanyahu menyambut pernyataan MBS ini di forum PBB saat itu.
Sementara, negara-negara teluk lainnya sudah lebih dahulu membuka jalur ‘sakti’ itu. Paket yang ditawarkan Israel bukan sekadar hubungan diplomatik, tapi juga sektor keuangan, jaminan keamanan, dan tentu saja ekonomi, khususnya minyak.
Belakangan, negara-negara teluk juga sudah masuk ke sektor pariwisata. Hal ini dimotori oleh UEA dengan surga wisatanya yang bombastis.
Minyak Jantung Ekonomi Dunia
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini sektor energi termasuk minyak merupakan jantung ekonomi dunia. Siapa yang menguasai, dia yang memegang kendali ekonomi dunia. Dan kekacauan di sekitar wilayah itu, maka akan menjadikan ekonomi dunia jatuh sekarat.
Selama ini, ada sejumlah negara yang memegang peranan sektor energi itu. Yaitu, Venezuela, Arab Saudi, dan Iran. Sementara negara-negara lain berada di bawah tiga raksasa sumber energi itu.
Dari sini bisa dipahami kenapa AS tiba-tiba ‘mengambil alih’ Venezuela. Mungkin untuk memblok sumber minyak Cina dan Rusia, mungkin juga untuk memfokuskan sumber konflik dunia yang akan digarap di sekitar teluk: Selat Hormuz.
Dengan kata lain, perang tanpa alasan terhadap Iran tak lebih untuk menjadikan jantung ekonomi dunia di wilayah Hormuz menjadi ‘sakit’ atau kacau. Hal ini akan berdampak pada krisis turunan dari sektor energi di seluruh dunia, yaitu krisis keuangan dan ekonomi.
‘Dukun Ekonomi’ Palsu IMF
Selama ini, para ekonom dunia seperti memaklumi bahwa di balik IMF ada konglomerat Yahudi. Mereka berpusat di AS. Meski kantor pusatnya di AS, tapi yang memegang kendali adalah Yahudi dan Israel.
Tidak heran jika Yahudi dan Israel begitu berkuasa terhadap kendali kekuasaan di AS. Contohnya, meskipun kongres AS tidak setuju dengan perang saat ini, tapi hasil keputusannya tiba-tiba menjadi setuju.
Di sinilah uniknya, di balik kekacauan di Hormuz, IMF bisa memainkan perannya lebih efektif. Selama ini, yang bisa menyaingi penguasaan IMF terhadap dunia adalah Cina. Dunia seperti mendapatkan alternatif sumber keuangan selain IMF yang mencekik, yaitu Cina. Meskipun, keduanya mungkin sama-sama mencekik.
Dengan ‘ledakan’ di pusat energi dunia: Hormuz dan Teluk, maka IMF bisa bersaing lebih cepat dari Cina. Inilah cara menguasai dunia tanpa senjata bedil. Melainkan, dengan duit atau utang.
Dengan permainan ini, akan banyak negara yang akan mengorbankan idealismenya, karena terdesak dengan tuntutan ekonomi dan keuangan yang darurat. Dan akhirnya, mereka akan terperangkap dalam jebakan utang.
‘Tidak ada makan siang yang gratis’. Tentu saja, di balik utang IMF, akan begitu banyak agenda politik dan militer yang dikuasai negara-negara donatur, khususnya AS dan Israel.
Meskipun perang ini menggerus keuangan AS dan Israel, tapi di sisi lain, mereka akan meraup begitu banyak korban melalui jebakan utang.
Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlewati. Sekali membuat heboh, begitu banyak keuntungan bisa diraih. Wallahu a’lam. [Mh]





