POHON angker menakutkan banyak warga. Kalau tidak ngasih sesajen, mereka akan celaka.
Di sebuah ujung desa, ada sebuah pohon yang disebut warga setempat sebagai pohon angker. Tak ada yang berani melewati pohon itu tanpa permisi. Sudah turun temurun, warga desa selalu memberikan sesajen di setiap malam tertentu.
Ada orang soleh yang baru tinggal di desa itu yang ingin ‘melawan’ angkernya pohon itu. “Masak sih, pohon saja ditakuti!” ucapnya suatu kali. Tak ada warga desa yang berani mengiyakan atau pun membantahnya.
Orang soleh itu sudah berada di depan pohon angker. Ia pun berteriak-teriak ke arah pohon yang katanya angker itu.
“Hei, setan atau apa pun di balik pohon ini, keluar hadapi saya!” teriaknya lantang.
Tak lama, keluar sosok hitam yang jelas bentuknya. Hanya suaranya saja yang terdengar jelas: “Saya penunggu pohon angker ini! Mau apa?”
Orang soleh itu tampak komat-kamit mengucapkan zikir-zikir. Ia langsung menyerang sosok hitam tanpa basa-basi. Pertarungan pun berlangsung seru.
Setelah beberapa waktu, sosok hitam itu terpental. Tubuhnya membentur pepohonan di sekitar situ. Ia tampak kesakitan.
“Ampun. Ampuun…. Saya mengaku kalah,” ucapnya.
Orang soleh itu pun mendekatinya. “Jangan pernah menggantu dan menyesatkan siapa pun di sini!” ucapnya sambil menunjuk ke arah sosok hitam itu.
“Baiklah. Aku akan turuti perintahmu, orang baik. Tapi, sebagai imbalan karena kekalahanku ini, aku berikan kepadamu hadiah ini,” ucap sosok hitam sambil tangannya memberikan sekantong benda.
Awalnya, orang soleh ragu menerima. Tapi, ia juga merasa penasaran. Setelah dibuka, ternyata kantong itu berisikan sejumlah batu permata. Kilaunya begitu mempesona.
Orang soleh itu menerima hadiah itu. Ia membawanya pulang. Pertarungan hari itu bukan hanya mengalahkan si sosok hitam, tapi juga memaksanya memberikan hadiah. Itulah kesan yang ditangkap si orang soleh.
Beberapa hari pun berlalu. Orang soleh hampir saja melupakan kantong yang berisikan batu permata yang ia letakkan di sebuah laci.
Entah kenapa ia ingin memeriksa isi kantong itu sekali lagi. Perlahan, ia pun membukanya. Ternyata, isi kantong itu berubah. Tidak lagi berisi batu permata, tapi hanya sejumlah kerikil.
“Kurang ajar! Setan hitam itu telah mengelabuiku,” ucapnya dengan geram.
Ia pun bergegas kembali menuju tempat di mana pohon angker itu berada. Ia ingin sekali lagi menghukum sosok hitam itu karena telah menipunya.
“Hei dedemit! Keluar kau!” teriaknya begitu lantang.
Sosok hitam itu keluar dari balik pohon angker itu. Ternyata, ia masih seperti dulu, tidak sakit apalagi cacat.
“Kau berani menipuku, ya?” ucap orang soleh sambil langsung memberikan serangan mendadak. Dan, pertempuran pun berlangsung sengit.
Setelah beberapa waktu, kini giliran si orang soleh yang terpental. Tubuhnya luka-luka. Ia mengaku kalah. Tapi, ia bingung: kenapa kali ini bisa kalah, padahal keadaannya sama seperti di pertarungan awal lalu?
“Kamu penasaran kenapa bisa kalah?” ucap si sosok hitam sambil mengejek.
Orang soleh itu hanya bisa mengangguk pelan.
“Baiklah, akan aku jelaskan. Di awal pertarungan lalu, kau menyerangku dengan ikhlas karena ingin meluruskan akidah penduduk desa ini. Tapi sekarang, kamu menyerangku karena merasa kehilangan sekantong batu permata. Itulah kenapa kamu bisa kalah!” ungkapnya.
**
Tidak sedikit pihak, pribadi maupun kolektif, yang ingin meluruskan kesesatan, kebodohan, dan penyimpangan yang terjadi di umat ini.
Di awal-awal, mereka berjuang dengan ikhlas. Dan hal itu menjadikan mereka mendapat pertolongan Allah dan keberkahan.
Namun, ketika banyak ‘hadiah’ yang datang kepada mereka, mereka pun tak lagi seperti dulu yang selalu tulus dan ikhlas dalam perjuangan. Ada ‘interest’ yang lambat laun mewarnai hati mereka.
Sejak itu, mereka tak lagi sibuk dalam dakwah dan ‘jihadnya’. Tapi lebih sibuk dengan ‘hadiah’ yang membuat mereka saling berselisih satu sama lain. [Mh]





