ISLAM itu rahmatan lil ‘alamin. Di antara rahmat dalam Islam itu adalah cara mencintai yang benar.
Cinta merupakan sifat alami yang dimiliki manusia. Manusia mencintai lawan jenis, mencintai harta, mencintai anak dan keturunan, mencintai teman sejati, mencintai hobi, dan lainnya.
Namun begitu, manusia kadang tidak mampu membedakan mana mencintai yang benar dan mana yang salah. Alih-alih ingin mengungkapkan rasa cinta, justru menebar racun mematikan.
Satu, Cara Mencintai Pasangan
Islam memaklumi bahwa ada cinta antara lawan jenis umat manusia: pria mencintai wanita, dan sebaliknya.
Karena itu, Islam mengajarkan cara yang benar mencintai pasangan. Antara lain, dengan cara menikah, bukan coba-coba.
Cara ini mengajarkan bahwa sebelum melampiaskan rasa cinta, pria dan wanita harus terikat dalam perjanjian yang kuat. Ada tanggung jawab di situ, dan ada persaksian dari orang-orang sekitar. Dalam Islam disebut dengan akad nikah.
Dengan akad ini, Allah akan menganugerahkan rasa sakinah: ketenangan, rasa mawaddah: cinta karena dorongan biologis, dan rasa rahmah: cinta karena dorongan rasa kasih dan sayang.
Dengan cara ini, pasangan dikondisikan untuk fokus dalam menyalurkan cintanya. Karena akan ada tanggung jawab dari cinta ini, yaitu nafkah lahir dan batin, anak, dan kelayakan hidup keluarga.
Tanpa cara Islam ini, umat manusia akan seperti binatang. Mereka saling melampiaskan nafsu tanpa memahami tanggung jawab yang harus dipikul. Dalam hal ini, pihak wanita menjadi yang paling dikorbankan.
Tanpa cara Islam ini pula, pria maupun wanita sama-sama tidak ingin memikul tanggung jawab anak dan keturunan. Tidak heran jika di banyak negara yang non muslim, jumlah kelahiran terus menurun. Bukan karena tidak ada hubungan pria dan wanita, tapi karena tidak ada yang mau tanggung jawab tentang anak.
Dua, Cara Mencintai Anak
Islam mengajarkan cara mencintai anak. Anak dalam Islam adalah amanah. Bukan sekadar buah dari hubungan cinta suami istri.
Karena itu, tidak semua yang dimau anak harus dipenuhi ayah ibu. Sebagaimana, tidak semua yang dibenci anak harus dihindari ayah ibu.
Jadi, mengungkapkan rasa cinta pada anak adalah memberinya kelayakan hidup, mendidiknya, mengajarkan hal yang baik dan menjauhkan hal yang buruk, melatihnya dalam kebaikan, dan menghukumnya jika melakukan kesalahan, tentu dengan porsi yang bijaksana.
Tiga, Cara Mencintai Orang Tua
Sama dengan mencintai anak, mencintai orang tua juga dengan nilai yang jelas. Yaitu, mencintai karena perintah Allah, bukan mencintai karena timbal balik. Apakah orang tua baik atau buruk, mencintai orang tua merupakan kewajiban seorang anak.
Allah subhanahu wata’ala meletakkan nilai cinta kepada orang tua selalu di bawah menyembah Allah. Atau, di urutan kedua setelah perintah menyembah Allah.
Islam memprioritaskan cinta pada orang tua di saat keduanya lanjut usia. Karena di saat itu, orang tua berada pada posisi yang rentan. Inilah momen ‘balas budi’ anak-anak kepada orang tua mereka.
Karena itu, Islam mengajarkan bahwa mencintai orang tua bukan sekadar tentang materi. Tapi juga kasih dan sayang. Dan, jangan pernah menitipkan orang tua ke panti jompo. Karena mereka akan merasa seperti terbuang dari keluarga yang telah susah payah mereka besarkan.
Empat, Cara Mencintai Harta
Islam menggusur logika sempit tentang mencintai harta. Mencintai harta bukan dengan ‘mengurungnya’ sehingga tidak berkurang.
Sebaliknya, mencintai harta adalah dengan memperbanyak dinamika dari harta itu agar bisa memberikan maslahat atau kebaikan orang banyak, termasuk tentunya untuk keluarga.
Misalnya, memperbanyak sedekah, mendayagunakan harta untuk modal usaha agar bisa bermanfaat untuk nafkah orang lain, berinfak untuk fi sabilillah, dan seterusnya.
Dengan cara ini, harta bukan hanya akan terus bertambah, tapi juga memberikan keberkahan atau nilai tambah yang tak terhingga: dunia dan akhirat. [Mh]





