MAKAN-MAKAN terkesan pemborosan. Padahal, itulah di antara tradisi dakwah para Nabi.
Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebarkanlah salam dan berilah makan, sambung tali silaturahim, dan tegakkanlah shalat malam di saat orang tertidur. Niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”
Hadis ini diterima oleh Abdullah bin Salam, salah seorang sahabat Nabi dari Madinah, saat pertama kali Rasulullah tiba di Madinah. Ia ingin sekali mendengar apa yang akan diucapkan Nabi ketika pertama kali tiba di Madinah.
Dan, ucapan itulah yang ia dengar. Dari situ, ia meyakini bahwa Rasulullah yang baru ia kenal itu memang sebagai sosok seorang Nabi.
Tradisi Makan-makan dan Dakwah Para Nabi
Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikenal sebagai bapak para Nabi dikenal dengan karena sosok kedermawanannya. Setiap hari, ia akan selalu mengajak orang lain untuk makan bersamanya.
Bahkan jika taka da orang di sekitar yang bisa diajaknya makan, ayah dari Nabi Ismail ini akan bersedia berjalan puluhan kilometer untuk mencari-cari orang yang mau diajaknya makan bersama.
Dan Nabi Ibrahim tidak pilih-pilih tentang siapa yang pantas diundang. Siapa pun bisa diundang untuk makan bersama.
Pernah suatu kali, ada seorang tua bertanya kepada Nabi Ibrahim. “Saya ini tidak percaya Tuhan. Bolehkah saya ikut makan gratis bersama Anda?” begitu kira-kira yang ia tanyakan.
Nabi Ibrahim tampak berubah wajah. Ia menunjukkan ekspresi tidak suka. Dan orang tua itu pun akhirnya pergi.
Tak lama setelah itu, Malaikat Jibril datang menemui Nabi Ibrahim. Malaikat Jibril menyampaikan teguran dari Allah subhanahu wata’ala.
“Wahai Ibrahim, kenapa kamu tidak mau menerima dia makan bersama hanya karena ia tidak bertuhan? Padahal Aku yang tidak ia percayai selalu memberinya makan sepanjang usianya,” seperti itulah kira-kira teguran yang diterima Nabi Ibrahim.
Mendengar teguran itu, Nabi Ibrahim langsung bersegera mencari-cari orang yang ia tidak ajak makan itu.
Tradisi ini juga diikuti oleh Nabi akhir zaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan sebelum menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah begitu gemar mengajak makan orang-orang miskin. Khadijah radhiyallahu ‘anha mempersilakannya untuk menggunakan harta yang ia miliki untuk apa saja.
Setibanya di Madinah, Nabi membuat satu tempat khusus untuk kaum fakir miskin di salah satu sisi Masjid Nabawi. Tempat itu disebut ahlus suffah.
Setiap hari, Nabi menyediakan makan ala kadarnya untuk mereka. Tidak selalu berupa makan besar, bahkan hanya sekadar kurma dan air.
Di antara warga ahlus suffah itu terdapat tokoh umat, antara lain Abu Hurairah, Abu Dzar Al-Ghifari, Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhum, dan lainnya.
Dakwah dan Makan
Untuk masyarakat non tradisional, rasanya akan menganggap bahwa tidak ada hubungannya antara dakwah dengan makan-makan. Bahkan, terkesan makan-makan seperti pemborosan.
Padahal, salah satu arti dari kata dakwah itu adalah mengajak orang lain untuk makan-makan. Hal ini dipahami dengan baik oleh para dai kalangan tradisional. Ada ilmu dan ada makan-makan.
Cara dakwah ini pula yang menjadikan Islam menjadi begitu menarik di awal-awal dakwah seluruh negeri, termasuk di Indonesia.
Islam dipandang sebagai solusi hidup, setidaknya bisa memberikan solusi atas masalah perut mereka dan keluarga yang kelaparan.
Begitu pun Allah subhanahu wata’ala mengenalkan Dirinya sebagai Dzat yang memberikan makan dan menganugerahkan keamanan. Alladzii ath’amahum min juu’. Wa aamanahum min khauf.
Jadi, jangan pernah menganggap bahwa acara pengajian dengan makan-makan sebagai pemborosan. Sama sekali tidak. Justru inilah sunnah dari Bapak Para Nabi: Ibrahim alaihissalam. [Mh]


