FITNAH atau tuduhan jahat bisa mengenai siapa saja. Bahkan terhadap orang paling soleh sekali pun.
Dalam perjalanan pulang sebuah ekspedisi, Rasulullah dan rombongan sempat terkejut. Hal ini karena tandu yang dinaiki Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha kosong. Para pemikul tandu baru menyadari setelah tiba di Madinah.
Pertanyaannya, kemana Sayyidah Aisyah?
Beberapa waktu berselang, ada seorang anak muda menuntun kuda. Dan di kuda itu duduk Aisyah dengan tenang. Anak muda itu adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Shafwan bin Muatthal.
Shafwan memang sasaran empuk untuk difitnah. Ia bukan dari suku Aus dan Khazraj. Bukan pula dari Muhajirin. Ia dari Bani Sulaim yang menghuni di pinggiran wilayah Madinah.
Tokoh munafik Ibnu Salul terus ‘menggoreng’ isu Shafwan pulang berdua dengan Aisyah. Dan, banyak orang-orang di Madinah yang terpengaruh.
Aisyah menjelaskan, ia sempat pergi buang hajat ketika rombongan istirahat di sebuah malam. Para pemikul tandu tidak bisa membedakan berat tandu: terisi atau kosong. Hal ini karena berat Aisyah begitu ringan untuk orang-orang seperti mereka.
Ketika mendapati rombongan sudah pergi meninggalkannya, Aisyah hanya diam. Ia pun menunggu di pinggir jalan, berharap kalau mereka menyadari tandunya kosong, bisa mudah menemukannya.
Dalam menunggu itu, Aisyah ketiduran. Qadarullah, Shafwan yang berjalan di posisi paling belakang menemukan Aisyah. Ia pun terkejut. Dan mempersilakan Aisyah menunggangi kudanya, sementara ia menuntun dari depan.
Masalahnya, ‘gorengan’ Ibnu Salul begitu hebat. Dalam bilangan jam, fitnah itu tersebar luas. Di setiap pergantian hari, bumbu-bumbu fitnah kian liar tak terkendali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menenangkan Aisyah bahwa beliau lebih percaya Aisyah daripada kaum munafik. Tapi, Aisyah sudah terlanjur kesal karena difitnah serendah itu oleh begitu banyak orang.
Aisyah pun meminta kepada Rasulullah untuk sementara tinggal bersama ayah ibunya. Ia merasa tidak perlu penegasan dari Rasulullah. Ia hanya butuh penegasan dari Allah subhanahu wata’ala bahwa itu tidak benar.
Masalahnya, wahyu tidak juga turun kepada Rasulullah. Begitu lama. Hingga satu bulan.
Barulah setelah itu, turun firman Allah Surah An-Nur ayat 11 sampai 20. Wahyu itu sesuai yang diharapkan Aisyah: penegasan bahwa Aisyah tidak bersalah.
Seorang sahabat Anshar, Abu Yusuf Al-Anshari pernah ditanya istrinya ketika isu itu menyeruak. Abu Yusuf balik bertanya, “Bagaimana jika tuduhan itu dialamatkan kepadamu?”
Istrinya langsung menjawab, “Ih, mana mungkin aku bisa berbuat seperti itu!”
“Kalau kamu saja merasa tidak mungkin, apalagi Aisyah. Dan Aisyah jauh lebih baik dari kamu!” tegas Abu Yusuf Al-Anshari.
**
Tak seorang pun yang bisa luput dari bidikan fitnah. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak yang membidiknya.
Jika bidikan itu tertuju pada kita, serahkan segalanya kepada Allah. Mungkin hanya perlu waktu, bahwa dengan kekuasaan-Nya, klarifikasi akan terjadi dengan sendirinya.
Sayangnya, tak banyak dari kita yang sabar menunggu proses waktu yang mungkin tak sebentar itu.
Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nashir. Cukuplah Allah sebagai sandaran dan penolong kita. [Mh]


