RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan sejumlah wasiat cinta kepada Abu Zar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya, selalu dekat dengan orang miskin.
Abu Zar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat senior Nabi. Ia begitu mencintai Nabi, dan Nabi pun mencintainya. Ia memegang wasiat Nabi hingga akhir hayatnya.
Berikut ini tujuh wasiat Nabi yang diterima Abu Zar Al-Ghifari. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Thabrani, dan lainnya.
Satu, mencintai orang miskin dan selalu dekat dengan mereka.
Jika ada orang yang begitu mencintai orang kaya, akan ada banyak tafsiran. Mungkin karena ingin mengambil manfaat dari mereka, mengharapkan imbalan, dan lainnya.
Tapi, jika mencintai orang miskin tak ada tafsiran lain kecuali memang karena dorongan mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala. Hanya Allah yang bisa membalas ini, karena orang miskin tak akan bisa.
Mencintai orang miskin adalah memberikan perhatian lebih kepada mereka. Yaitu dengan rutin memberikan santunan, sebagai orang tua asuh, memberi makanan gratis, dan lainnya.
Setiap kali ada uang lebih, yang teringat adalah orang miskin mana yang akan lebih layak ia berikan. Tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun.
Selalu dekat dengan orang miskin adalah selalu siap dan terbuka untuk permintaan tolong dari orang miskin. Tidak ada sekat, apalagi prosedur yang berbelit-belit. Kapan pun orang miskin ingin meminta tolong, ia selalu ada di dekat mereka.
Dua, selalu memperhatikan orang yang di bawah, bukan yang di atas.
Orang yang selalu memperhatikan orang yang di bawahnya, akan selalu merasa lebih beruntung. Ia mungkin merasakan kehidupan yang sulit, tapi di bawahnya ada yang lebih sulit. Karena itulah, di hatinya selalu berlimpah rasa syukur kepada Allah.
Sementara orang yang pandangannya ke arah ‘atas’, akan selalu tidak merasa puas dengan yang Allah berikan. Ia seperti merasa paling miskin sedunia. Karena itulah, ia menjadi sangat pelit dan egois.
Tiga, selalu menyambung tali silaturahim meski terhadap orang yang membenci.
Saling berbalas silaturahim itu biasa. Seseorang dikunjungi dan diperlakukan baik, kemudian ia membalasnya dengan serupa.
Tapi, mengunjungi dan memperlakukan baik seseorang yang membenci, itu sangat luar biasa. Dan hal itu akan menjadi obat mujarab untuk menghilangkan hasad dan dengki orang lain terhadap kita. Meskipun hal itu tidak mudah.
Empat, memperbanyak kalimat ‘laa haula walaa quwwata illa billah’.
Kalimat di atas artinya tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah subhanahu wata’ala. Hal ini akan menambah kemantapan diri untuk terus berada dalam jalan yang Allah ridhai, apa pun hambatannya.
Lima, tetap menyatakan yang haq meskipun pahit.
Menyatakan kalimat yang haq tidak selalu menyenangkan orang lain. Terutama oleh mereka yang melakukan pelanggaran dan jauh dari jalan Islam. Tidak heran jika mereka akan membenci, menghalangi, atau mungkin memusuhi kita.
Karena itu, tetaplah tegas menyatakan yang haq meskipun risikonya begitu menyakitkan.
Enam, tidak takut dengan celaan di jalan kebenaran.
Kadang serangan dalam ucapan jauh lebih menyakitkan dari serangan fisik. Ketidaksukaan seseorang terhadap Islam akan dialamatkan kepada mereka yang menyerukannya.
Karena itu, jangan pernah takut dengan celaan. Jangan gampang ‘baper’ terhadap kata-kata yang melecehkan saat kita dalam misi dakwah Islam.
Tujuh, jangan meminta-minta kepada manusia.
Salah satu berkah dari keimanan adalah tawakal atau berserah diri kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Akan selalu ada pertolongan dari Allah dari sumber yang tak terduga.
Karena itu, yang selalu ditujukan untuk menjadi tempat meminta hanyalah Allah subhanahu wata’ala. Bukan yang lain, termasuk kepada manusia.
Hal ini akan menjaga harga diri sebagai orang yang mampu berdiri sendiri. Selain tentunya, akan menstimulasi diri untuk giat berusaha mencari rezeki dengan tangan sendiri. [Mh]



