• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 13 Februari, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Nasihat

Tetap Sederhana Sepanjang Zaman

12/02/2026
in Nasihat
Orang Buta Lebih Empati dari Yang Normal

Ilustrasi, foto: satibal.com

66
SHARES
506
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

SEDERHANA itu pilihan, bukan keterpaksaan. Meskipun ia mampu, meskipun orang-orang sekelilingnya meninggalkan sederhana.

Kadang saat membaca hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan bertemu dengan kalimat  ‘dari Jundub bin Junadah’ radhiyallahu ‘anhu. Siapakah orang ini?

Ya, nama yang terkesan asing itu menjadi tidak asing sama sekali ketika tahu panggilannya. Ia sering dipanggil dengan Abu Zar Al-Ghifari.

Julukan itu merujuk pada nama putranya yang wafat ketika masih kecil. Nama anak itu Zar. Dan Al-Ghifari adalah nama suku yang berdomisili di sekitar perjalanan antara Mekah dan Syam atau berada di sebelah utara Mekah.

Suku Ghifar begitu terkenal di kalangan jazirah Arab waktu itu. Hal ini karena suku itu rombongan perampok yang begitu sadis dan ditakuti. Korbannya begitu banyak, karena itulah mereka sangat terkenal dan ditakuti.

Abu Zar masuk Islam di masa awal dakwah Rasulullah di Mekah. Sejak lama ia merindukan ajaran kebaikan itu. Ia memang mahir merampok, tapi tidak pernah menyembah berhala. Dan sungguh pun merampok, Abu Zar hanya menargetkan orang-orang kaya. Hasil rampokan ia bagikan kepada orang-orang fakir.

Sebelum masuk Islam, Abu Zar mencari tahu tentang Nabi itu di dekat Ka’bah. Tapi, ia tidak mau bertanya ke siapa pun. Ia hanya mencermati dan mengira-ngira siapa sosok Nabi itu.

Ketika itu, ia bertemu dengan seorang anak remaja: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. “Sepertinya Anda orang asing di sini?” ucap Ali. Abu Zar mengiyakan.

“Kalau begitu, mari bermalam di rumahku,” ucap Ali sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Abu Zar pun ikut bermalam di rumah Ali.

Beberapa hari kemudian, Ali kembali berada di sekitar Ka’bah. Dan lagi-lagi, bertemu dengan Abu Zar. “Belum juga menemukan orang yang dicari?” ucap Ali.

Akhirnya, Abu Zar mengajak Ali untuk berbicara empat mata. “Aku sebenarnya mencari seorang yang dikabarkan sebagai Nabi,” ungkap Abu Zar.

“Baiklah. Ayo ikut aku, aku juga sedang menuju ke rumahnya,” jawab Ali sambil berjalan di depan dan diikuti Abu Zar secara rahasia.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, Abu Zar minta dijelaskan tentang ajaran Islam. Rasulullah pun menjelaskan. Saat itu juga, Abu Zar menyatakan diri masuk Islam.

Rasulullah mengatakan, “Pulanglah secara diam-diam ke kaummu, ajarkan Islam kepada mereka.”

Abu Zar pun pergi meninggalkan Rasulullah. Tapi, ia tidak langsung pulang ke kampungnya. Ia kembali ke dekat Ka’bah. Di situ, ia berteriak-teriak, “Saya sudah masuk Islam!”

Orang-orang Quraisy yang berada di sekitar situ kaget. Mereka pun memukuli Abu Zar bertubi-tubi. Kalau saja tidak ditolong Abbas bin Abdul Muthalib, mungkin ia sudah mati.

“Kalian tidak kenal dengan orang ini? Ia anggota suku Ghifari. Perjalanan dagang kalian akan sangat berbahaya jika kalian membunuhnya!” jelas Abbas. Orang-orang Quraisy pun meninggalkan Abu Zar dalam keadaan luka.

Seperti yang diperintahkan Rasulullah, Abu Zar pun pulang ke sukunya dan mendakwahi ajaran Islam ke mereka. Tidak mudah memang, dan beberapa kali ia mengalami penentangan dari sukunya. Tapi, akhirnya suku Ghifari itu pun masuk Islam.

Abu Zar baru tiba di Madinah setelah terjadi Perang Badar. Ia langsung bergabung dengan Ahlus Sufah di pelataran Masjid Nabawi. Di sanalah ia sering bertemu Rasulullah untuk menimba ilmu dan hikmah.

Hampir semua peperangan yang dipimpin Nabi diikuti oleh Abu Zar. Dan yang menarik adalah yang terjadi di perjalanan menuju Perang Tabuk.

Abu Zar tertinggal jauh dari rombongan. Hal ini karena ia tak tega dengan keledainya yang keletihan. Ia pun turun dari keledai dan berjalan kaki dengan membawa semua muatan yang ada di keledai.

“Ya Rasulullah, ada seseorang yang berjalan sendirian di belakang kita!” ucap seorang sahabat menunjuk ke arah datangnya Abu Zar.

Rasulullah mengatakan kepada para rombongan: dia Abu Zar, datang sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan juga sendirian.

Kalimat Rasulullah ini terekam kuat oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Suatu saat nanti, hal itu memang akhirnya terbukti.

Hal unik dari sahabat Abu Zar al-Ghifari ini, selain senang dengan kesendiriannya, juga begitu konsisten dengan kesederhanaannya. Meskipun ia sangat mampu untuk hidup kaya.

Selepas Rasulullah wafat, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Usman begitu memuliakan Abu Zar. Abu Zar pun hampir tak pernah luput dari semua jihad yang diperintahkan tiga khalifah itu.

Begitu banyak ghanimah dan ‘gaji’ yang diberikan para khalifah itu kepada Abu Zar. Terutama di masa Khalifah Usman bin Affan. Tapi, semua itu langsung ia habiskan untuk sedekah ke fakir miskin.

Di masa Khalifah Usman, Abu Zar masih tetap tinggal di kawasan Suriah setelah sebelumnya ikut berjihad di masa Khalifah Umar di kawasan itu hingga menaklukkan Mesir.

Tapi, ada hal yang dirasa janggal oleh Abu Zar ketika di masa itu banyak gubernur Islam yang hidup mewah. Terutama di wilayah Syam. Ia pun protes keras langsung ke sang gubernur.

Para gubernur ini melapor ke Khalifah Usman tentang ‘gerakan’ Abu Zar yang dianggap merusak persaudaraan. Karena tak mau melihat aneka kemewahan itu, Abu Zar pun pergi meninggalkan Syam dan tinggal di sebuah desa di sebelah timur Madinah.

Ia hidup di sana dengan ala kadarnya. Putri satu-satunya merawat Abu Zar yang sudah tak lagi muda. Dan Allah pun mewafatkan Abu Zar dalam keadaan kesendirian di tengah gurun yang jauh dari permukiman itu.

Saat itu, ada rombongan dari Kufah yang lewat di kawasan itu. Salah seorang dari mereka ada Abdullah bin Mas’ud. Beliau begitu terkejut manakala mendapati Abu Zar yang sudah wafat sendirian, hanya ditemani putrinya seorang diri.

Rombongan itu pun mengurus jenazah Abu Zar. Saat itulah Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Benar sekali apa yang pernah diucapkan Rasulullah tentang Abu Zar. Ia hidup sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan Allah sendirian.”

Putri Abu Zar akhirnya dirawat dan difasilitasi oleh Khalifah Usman bin Affan hingga akhir hayatnya.

**

Hidup sederhana itu pilihan, bukan keterpaksaan. Seperti itulah yang diajarkan Rasulullah dan para salafus soleh radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Selagi ada kesempatan untuk bisa berinfak dan sedekah, lakukanlah dengan segera. Jangan tunggu hingga kita mengungkapkan keinginan sedekah itu di hadapan malaikat kematian. Karena hal itu tak ada artinya. [Mh]

 

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Keshalihan Suami Istri Syarat Keharmonisan

Next Post

Kemuliaan Besar Menjadi Ayah dan Ibu

Next Post
Kemuliaan Besar Menjadi Ayah dan Ibu

Kemuliaan Besar Menjadi Ayah dan Ibu

Hikmah Diturunkannya Surat At Taubah

Terikatlah pada Al-Qur'an, Niscaya Kau Dapati Keberkahan

Tips Memilih Pakaian Preloved

Tips Memilih Pakaian Preloved

  • 15 Hadits tentang Ramadan yang Perlu Diketahui Umat Muslim

    15 Hadits tentang Ramadan yang Perlu Diketahui Umat Muslim

    114 shares
    Share 46 Tweet 29
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    7965 shares
    Share 3186 Tweet 1991
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3492 shares
    Share 1397 Tweet 873
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4136 shares
    Share 1654 Tweet 1034
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    1708 shares
    Share 683 Tweet 427
  • Yang Berhak Memandikan Jenazah Ibu

    2908 shares
    Share 1163 Tweet 727
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4448 shares
    Share 1779 Tweet 1112
  • 25 Nama Bayi Laki-Laki Berawalan Huruf Z dalam Bahasa Arab

    800 shares
    Share 320 Tweet 200
  • Bangun Kolaborasi untuk Masyarakat, Salimah Bogor Audiensi dengan Wakil Ketua DPRD

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Ramadhan Mendatang, Dompet Dhuafa Mengusung Kampanye Berzakat Itu Kalcer

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga