SUKSES dalam dakwah itu prestasi luar biasa. Tapi, lebih luar biasa lagi jika juga sukses dalam bisnis.
Ada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sukses di dua hal sekaligus: dakwah dan bisnis. Ia adalah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu.
Thalhah lahir di Mekah sekitar 25 tahun lebih muda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun begitu, ia tergolong sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam tak lama setelah Abu Bakar dan lainnya.
Suatu hari, sebelum masuk Islam, Thalhah tengah dalam perjalanan bisnis ke Basrah, Irak saat ini. Di sana ia bertemu dengan seorang pendeta. Dalam sebuah obrolan, pendeta itu mengabarkan bahwa di Tanah Haram yaitu Mekah akan lahir seorang Nabi. Pendeta itu pun menjelaskan ciri-ciri kebaikan dari Nabi tersebut.
Sekitar empat bulan, Thalhah tinggal di Basrah. Setelah urusan bisnis usai, ia kembali ke Mekah.
Tapi, betapa terkejutnya Thalhah manakala di Mekah tengah ramai isu bangkitnya seorang Nabi. Ia pun ‘merapat’ ke koleganya: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Ia ingin menanyakan tentang sosok Nabi yang dimaksud.
Dan, mendengar jawaban dari Abu Bakar, Thalhah jauh lebih terkejut lagi. Abu Bakar menjelaskan kalau dirinya sudah masuk Islam. Thalhah pun minta diantarkan untuk bertemu dengan Rasulullah.
Di hadapan Rasulullah, Thalhah menyatakan diri masuk Islam. Ia begitu cepat berpikir: tak mungkin orang yang selama 40 tahun hidup bersama mereka dan begitu bisa dipercaya, melakukan kedustaan tentang kenabian dirinya.
Setelah mengalami berbagai siksaan di Mekah, Thalhah ikut hijrah bersama para sahabat Nabi yang lain ke Madinah.
Bisa dibilang, Thalhah begitu sempurna. Sempurna dalam kemampuan dakwah dan bisnis, bahkan dalam kedermawanannya.
Ia pernah menjual sebidang tanah dengan nilai puluhan milyar rupiah ukuran saat ini. Uang itu pun habis ia bagi-bagikan ke seluruh fakir miskin di Madinah.
Thalhah juga pernah gelisah luar biasa ketika mendapatkan keuntungan bisnis sebesar 400 ribu dirham atau setara dengan kira-kira 40 milyar rupiah (1 dirham senilai 100 ribu rupiah).
Istrinya bertanya, kenapa gelisah seperti itu? Thalhah pun menjelaskan tentang keuntungan bisnisnya yang sangat banyak dan membuatnya gelisah. Istrinya pun menyarankan agar semua uang itu disedekahkan.
Bayangkan, di saat orang banyak gelisah karena tak punya uang, Thalhah justru gelisah karena kebanyakan uang. Dan solusinya begitu ajaib: semuanya habis disedekahkan.
Thalhah selalu ikut dalam jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecuali yang ia tidak ikut adalah Perang Badar. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan bisnis ke Suriah.
Karena itu, ia begitu hati-hati mengatur jadwal perjalanan bisnisnya. Dan akhirnya, ia bisa mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah.
Dalam perang itu, Thalhah bahkan mendapat gelar dari Rasulullah sebagai ‘Perisai Nabi’. Hal ini karena ia menjadikan seluruh tubuhnya sebagai perisai Nabi dari serangan musuh kafir Quraisy.
Tubuhnya pun mengalami luka yang sangat parah. Seluruh jarinya putus, ada sekitar 70 bekas tusukan tombak dan sabetan pedang, dan lainnya. Tapi, nyawanya selamat.
Namun begitu, ia tetap mengikuti peperangan berikutnya bersama Nabi. Tentu setelah seluruh lukanya sembuh.
Tidak heran jika Thalhah termasuk salah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Ia pun wafat dalam keadaan syahid setelah terkena serangan panah oleh musuh.
Thalhah wafat di usia sekitar 62 tahun. Meskipun ia wafat dalam keadaan syahid, ia meninggalkan warisan sebesar 200 ribu dinar atau senilai 2 triliun rupiah (1 dinar senilai sekitar 10 juta rupiah).
**
Tidak banyak orang yang bisa menjadi serba bisa: sukses dalam dakwah, juga sukses dalam bisnis. Dan satu lagi yang juga tidak kalah susahnya: sukses dalam kedermawanannya.
Di satu sisi, hal ini juga membuktikan bahwa orang yang gemar bersedekah tidak akan berkurang kekayaannya. Justru berlipat.
Jangan pernah korbankan salah satu dari dua bakat yang dimiliki: kemampuan berdakwah atau bisnis. Tetaplah pertahankan keduanya. Tapi, jangan pernah bisniskan dakwah. [Mh]



