MENYAMBUT bulan suci Ramadan yang tinggal dua pekan lagi, Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) menggelar kajian bertema Nisfu Sya’ban. Kegiatan diselenggarakan pada Senin (2/2) dan diikuti ratusan peserta secara daring.
Kajian menampilkan dua tokoh perempuan, yaitu Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, ME dan Ketua Pembina Yayasan Adara, Herlini Amran, MA.
Nurjanah Hulwani menyebut, para sahabat Rasulullah selalu mempersiapkan diri secara ekonomi sebelum Ramadan sehingga bisa fokus beribadah di bulan Ramadan. Para salafus soleh biasa berjanji dengan teman-temannya untuk hanya sekedar sapa di bulan Ramadan agar bisa memperbanyak ibadah kepada Allah.

“Allah juga mendidik empati kita melalui wakaf, infak, dan sedekah. Ketika berpuasa kita merasakan tidak enaknya tanpa makanan. Ini mengingatkan bagaimana sakitnya saudara kita di Palestina yang mengalami kelaparan selama bertahun-tahun,” ucapnya.
Selanjutnya, Nurjanah menjelaskan keutamaan wakaf produktif yang bisa melipatgandakan pahala. Wakaf produktif dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi yang keuntungannya terus menerus digunakan tanpa henti. Contoh wakaf produktif adalah wakaf sumur Utsman bin Affan. Awalnya wakaf ini hanya untuk minum orang-orang di sana.
Berabad-abad kemudian wakaf tersebut digunakan untuk membangun hotel. Kemudian keuntungan operasional hotel digunakan untuk mengembangkan perusahaan serta untuk amal kebaikan. Sehingga Utsman bin Affan terus mendapat pahala hingga saat ini meskipun ia telah wafat lebih dari seribu tahun yang lalu.
Karena itu, Nurjanah mengajak hadirin berwakaf untuk membebaskan gedung MeetHer di bawah naungan Wakaf Orbit. Gedung ini memiliki fasilitas seperti konseling, kafe, gerai, belajar Al-Qur’an, daycare, renang, gym, serta meeting room. Sebagian keuntungan dari operasional akan diberikan untuk membantu perjuangan Palestina.
Sementara itu, Herlini Amran membahas keistimewaan bulan Sya’ban. Di antaranya diturunkannya perintah salawat pada Nabi SAW, perintah peralihan arah kiblat, serta waktu bagi pengampunan dosa dan laporan amal. Karena itu, para salafus soleh memanfaatkan bulan Sya’ban untuk memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an.
Ia mengutip hadits riwayat Ibnu Majah “Di malam Nisfu Sya’ban, sesungguhnya Allah melihat (hambaNya), maka mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali musyrik dan musyahin.” Musyrik adalah menyekutukan Allah, sedangkan musyahin adalah yang bermusuhan atau saling membenci atau memutuskan silaturahmi.
Herlini juga menjelaskan, jumhur ulama sepakat bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan. Sebagian dari ulama memanfaatkan malam tersebut dengan beribadah secara bersama, sebagian beribadah secara sendiri-sendiri.
Sekretaris Jendral KPIPA, Lissa Malike, mengatakan KPIPA melaksanakan kajian ini untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghidupkan malam Nisfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya’ban.
“Nanti malam kita sudah memasuki malam Nisfu Sya’ban. Maka simaklah baik-baik kajian sore yang singkat ini untuk dipraktekkan dengan menghidupkannya di malam nanti. Jangan lupa manfaatkan kesempatan Nisfu Sya’ban dengan berdonasi wakaf untuk membangun Gaza Palestina,” pesannya. [Mh/KPIPA]





