KECINTAAN kepada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merata di seluruh hati para sahabat. Dan, Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah salah satunya.
Bilal bin Rabah merupakan salah satu sahabat Nabi yang begitu populer. Namanya melekat pada panggilan shalat: azan.
Tentang kedekatannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Bilal mungkin orang kesekian dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam. Meskipun, ia hanya seorang budak dari seorang tokoh Quraisy: Umayyah bin Khalaf.
Ia dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu setelah menyaksikan Bilal terus-menerus disiksa oleh tuannya karena masuk Islam. Bilal pun akhirnya menjadi orang yang merdeka.
Kulitnya hitam, rambutnya keriting kecil seperti kismis. Ia memang asli keturunan Habasyah, saat ini disebut negeri Etiopia di wilayah Afrika. Tapi, ia lahir di Mekah, sekitar 10 tahun setelah kelahiran Rasulullah.
Ada hal yang istimewa diperoleh Bilal selepas hijrah ke Madinah. Rasulullah menugaskan Bilal untuk memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan shalat. Ia diangkat menjadi muazin.
Ada yang spesial dari Bilal kenapa Rasulullah memilihnya. Pertama, Bilal punya pengalaman pribadi yang luar biasa tentang kalimat tauhid saat disiksa majikannya di Mekah. Kedua, suaranya begitu lantang dan merdu. Tanpa pengeras suara pun, radius panggilannya menjangkau jauh.
Namun, selepas Rasulullah wafat, ia tak lagi mampu mengumandangkan azan. Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah secara khusus menanyakan hal ini kepada Bilal.
“Kenapa, Bilal?” ucap Khalifah Abu Bakar.
“Aku tak lagi kuat ketika menyebut nama Rasulullah dengan nama aslinya,” jawab Bilal.
Bahkan, di momen itu pula, Bilal minta izin untuk bisa meninggalkan Madinah untuk selamanya. Ia minta diikutsertakan berjihad di negeri Syam atau Suriah bersama Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhum.
Dengan berat hati, Khalifah Abu Bakar akhirnya menyetujui permintaan Bilal. Dan, Bilal pun ikut dalam barisan Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah selama bertahun-tahun di Suriah melawan pasukan Romawi.
Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ada peristiwa menarik ketika Umar berkunjung ke wilayah Syam menjumpai para sahabat yang menang dalam jihad di sana.
Di saat semuanya sedang berkumpul, Khalifah Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan azan. Tentu saja, Bilal menolak dengan tegas.
Tapi, Khalifah Umar terus mendesak. “Untuk terakhir kali saja, wahai Bilal!” ucap Umar.
“Untuk terakhir kali? Baiklah!” akhirnya Bilal bersedia.
Benar saja. Ketika menyebut kalimat ‘asyhadu anna muhammadar rasulullah’, Bilal menangis. Ia hampir tak kuat meneruskan azannya.
Para sahabat yang berada di situ pun ikut menangis. Mereka menjadi terbawa dalam kenangan indah ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan, orang yang paling keras suara tangisnya saat itu adalah Umar bin Khaththab sendiri.
Allah subhanahu wata’ala mengabulkan apa yang menjadi tekad Bilal. Ia memang tak lagi menginjakkan kakinya di Madinah. Bilal wafat di negeri Suriah dalam usia sekitar 60 tahun.
Ketika menjelang ajalnya, ia mengatakan kepada istrinya, “Seorang kekasih akan menjumpai kekasihnya yang lama tak jumpa.”
“Ah, betapa sedihnya,” sahut istrinya.
“Justru, betapa bahagianya,” ucap Bilal. Karena hanya dengan wafat, ia bisa bertemu lagi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
**
Kenangan indah bersama seseorang yang saling mencintai karena Allah merupakan jalinan persaudaraan abadi: dunia dan akhirat.
Berbahagialah ketika Allah menganugerahkan keistimewaan ini. Karena suatu saat, hal ini akan menjadi naungan ketika tak ada lagi naungan selain dari Allah subhanahu wata’ala. [Mh]


