TIDAK semua luka datang dari orang asing. Terkadang, yang paling menyakitkan justru berasal dari mereka yang pernah kita percaya. Perkataan yang merendahkan, sikap yang mengabaikan, atau perlakuan yang tidak adil sering meninggalkan bekas di hati. Wajar jika kita merasa sedih, kecewa, bahkan marah. Namun, jangan sampai keburukan orang lain mengubah diri kita menjadi pribadi yang juga gemar menyakiti.
Menjadi baik bukan berarti lemah. Menjadi baik adalah pilihan yang lahir dari hati yang kuat. Kita tidak berbuat baik karena ingin dipuji atau berharap semua orang membalas dengan perlakuan yang sama. Kita melakukannya karena Allah mencintai hamba yang menjaga akhlaknya, bahkan ketika sedang diuji oleh perilaku manusia.
Baca Juga: Simak Beberapa Dampak Buruk Akibat Mencuci Muka secara Berlebihan
Tetap Menjadi Baik Meski Pernah Disakiti
Sering kali kita berpikir bahwa membalas adalah cara terbaik untuk mengembalikan harga diri. Padahal, balasan yang paling indah justru datang dari Allah. Dia melihat setiap air mata yang ditahan, setiap kata kasar yang tidak kita balas, dan setiap amarah yang kita redam demi menjaga lisan. Mungkin tidak ada manusia yang mengetahui perjuangan itu, tetapi Allah mengetahui isi hati yang paling tersembunyi.
Memaafkan juga bukan berarti melupakan semua luka atau membiarkan diri terus disakiti. Memaafkan adalah membebaskan hati dari beban dendam agar kita bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang. Kita tetap boleh menjaga jarak dari orang yang menyakiti, tetapi tidak perlu memelihara kebencian yang perlahan menggerogoti ketenangan jiwa.
Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34, “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan memiliki kekuatan yang mampu memutus rantai keburukan. Ketika seseorang memilih bersabar dan tetap berakhlak mulia, ia sedang memenangkan pertarungan melawan hawa nafsunya sendiri.
Bisa jadi, orang yang menyakiti kita tidak pernah meminta maaf. Bisa jadi, ia bahkan tidak menyadari kesalahannya. Namun jangan biarkan hidup kita berhenti karena menunggu penyesalan orang lain. Teruslah melangkah, teruslah berbuat baik, dan serahkan setiap urusan kepada Allah Yang Maha Adil.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, setiap kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan kembali kepada pemiliknya dalam bentuk yang mungkin tidak kita duga: hati yang lebih damai, hidup yang lebih berkah, atau pertolongan Allah di waktu yang paling kita butuhkan. Maka, jagalah kebaikan itu, karena sesungguhnya kita sedang menanamnya untuk diri kita sendiri. [DW]
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





