KEHIDUPAN dunia bagi manusia sejatinya adalah ruang untuk menguji seberapa mereka kokoh menjaga iman.
Dari lahir sudah digambarkan bahwa menangisnya sang bayi lantaran kekhawatirannya menapaki perjalanan.
Walaupun itu bisa jadi hanya sekedar isyarat namun banyak hikmah yang bisa jadikan pelajaran.
لو لم تكن الحياة صعبة لما خرجنا من بطون امهاتنا نبكي
” Seandainya hidup ini tidak sulit , maka kita tidak keluar dari perut ibu kita dalam keadaan menangis ”
Mental perjuangan sudah diberikan oleh Allah swt. Perjuangan apa saja yang sudah dilakukan ketika bayi baru lahir? Mereka berjuang untuk bagaimana bisa menerima ASI dari sang ibu, belajar tengkurap, belajar duduk, belajar jalan semua sudah diperjuangkan bahkan ketika baru berjalan berapa kali terjatuh pun akan berulang pula untuk bangkit. Sang bayi tak pernah takut jatuh karena tahu caranya untuk bangkit. Begitu Allah sudah ciptakan sunnatullah begitu menakjubkan.
Baca Juga: Berbagai Kiat Mengajarkan Islam pada Anak Sejak Dini
Jangan Mudah Tersandera oleh Kesedihan
Jadi ketika sudah menjadi manusia seutuhnya yang seharusnya mampu mengarungi medan ujian. Setiap saat yang kita tak tahu kapan datangnya Allah sudah siapkan yang namanya ujian. Kesulitan, keburukan, rasa sakit, kepedihan banyak rasa yang secara hati nurani kita enggan menerima. Namun apapun kenyataannya kita harus siap menerima.
Sebenarnya jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda tentu akan menjadi beda pula reaksi dan dampaknya. Apalagi kaitannya dengan takaran keimanan seseorang. Kita ingat firman Allah tentang hal itu. ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-ankabut :2 ) Jika demikian maka kita akan menikmati setiap episode yang menjadi bagian dari cerita hidup kita.
Firman Allah : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Albaqarah 214).
Keimanan yang membuat kita tetap tegar untuk melangkah, walau kadang tertatih namun nur Ilahi senantiasa membimbing kita hingga akhirnya kekuatan kembali hadir dan menjadikan kita bisa bangkit untuk melanjutkan perjalanan dengan kaki yang menderap karena semakin sadar bahwa dirinya sedang menuju Allah dan cinta Nya.
Menghibur hati agar tak tersandera oleh kesedihan sudah seharusnya kita lakukan. Sehingga ketika kesulitan datang ada penguat jiwa kita yakni:
1. Menyadari bahwa sesudah kesulitan Allah datangkan kemudahan. Seperti halnya dalam QS Al Insyiroh, Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Dua kali diulang pernyataan bahwa setelah kesulitan Allah datangkan kemudahan menanda bahwa perkataan Allah itu benar dan tidak ada keraguan lagi. Maka yakinlah bila saat ini sedang mengalami kesulitan Allah akan siapkan kemudahan setelahnya.
2. Menyadari bahwa setiap kesulitan yang melingkupi hidup kita akan mendatangkan pahala yang berlipat. Dalam Al-Quran disebutkan, “Dan sungguh kamu berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (kematian) dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah, 155). Dan kabar gembira tak lain adalah pahala dan karunia yang tiada terkira.
3. Menyadari bahwa kesulitan sebagai sarana penghapus dosa. Ini seperti disebutkan di dalam hadits:
مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَ
Jangan berlarut dalam kesedihan, karena setelah kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. [DW]
Sumber: Kajian telegram Ustadzah Rochma Yulika


