DALAM berumah tangga tentu saja banyak permasalahan dan ujian yang akan ditemukan oleh suami ataupun istri. Berumah tangga adalah ibadah paling lama yaitu seumur hidup, maka dari itu, antara suami istri harus bekerja sama dan memerankan perannya masing-masing dengan baik.
Baca Juga: Krisis Nilai dan Moral dalam Pendidikan Keluarga
Lalu, bagaimana agar rumah tangga senantiasa kesuciannya? Berikut ini ada berbagai cara yang bisa dilakukan:
Cara Mensucikan Rumah Tangga dari Perselisihan
1.Selektif saat memilih pasangan
Menjalankan ta’aruf yang benar dengan mengenal psikologis, pola asuh, sifat-sifat dan kebiasaan pasangan disamping pengenalan fisik. Pilih pasangan yang banyak memiliki kedekatan dalam hal-hal pribadi.
Rasulullah SAW bersabda: “Ruh itu bagaikan pasukan yang berbaris. Siapa saja yang saling mengenal, bisa berpadu. Dan siapa saja yang saling bertentangan, akan terus berselisih.” (HR Bukhori)
2.Tidak cemburu berlebihan dan tidak cuek
Pondasi hubungan suami istri adalah saling percaya (ats tsiqoh al mutabadilah).
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara cemburu ada yang dicintai Allah dan ada pula cemburu yang dibenci Allah. Di antara sikap berbangga diri ada yang disukai Allah dan ada pula sikap berbangga diri yang dimurkai Allah. Adapun kecemburuan yang disukai Allah adalah kecemburuan (dalam hal keragu-raguan). Kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan di luar hal itu. Adapun sikap berbangga diri yang disukai Allah adalah bangganya seseorang ketika maju ke medan pertempuran di saat terjadinya bencana. Sikap bangga yang dibenci Allah adalah bangga dalam hal kebatilan” (HR Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Hibban).
3.Memberi kepuasan kepada istri
Allah SWT berfirman: “Dan apabila mereka (perempuan-perempuan haid) telah suci, datangilah mereka dari arah yang telah diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS Al-Baqarah : 222).
Secara umum, para istri seringkali tertinggal mendapatkan kepuasan dalam berhubungan suami istri. Dalam hal ini para suami perlu memahami kebutuhan istri dan berusaha untuk memenuhi kepuasan biologisnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang diantara kalian mendatangi istrinya di tempat tidur hendaklah ia jujur kepadanya. Jika suami telah terpenuhi kebutuhannya sementara istri belum terpenuhi maka bersabarlah sampai terpenuhi kebutuhan istrinya.” (HR Abdur Razzak dan Abu Ya’la)
4. Suami siaga
Saat Umar bin Khottob RA sedang berkeliling Madinah, ia mendengar seorang perempuan bersenandung kesepian. Umar bertanya siapakah perempuan itu. Orang-orang mengatakan, ia seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk berjihad di jalan Allah. Maka Umar memintanya untuk menyusul dan mendampingi suaminya. Kemudian Umar menemui Hafsah putrinya dan bertanya: “wahai putriku, berapa lama seorang istri kuat ditinggal suaminya?” Hafsah terkejut dan mengatakan: “Subhanallah, orang sepertimu masih bertanya seperti itu?”. Umar menjawab: “Kalau bukan karena urusan kaum muslimin, aku tidak akan menanyakannya.” Maka Hafsah menjelaskan: “Lima bulan atau enam bulan.” Maka Umar membuat peraturan pasukan kaum muslimin berganti di dalam tugasnya yang jauh setiap enam bulan sekali.
5. Istri sigap memenuhi kebutuhan biologis suaminya
Rasulullah SAW bersabda: “Demi diriku yang berada di genggamanNya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur kemudian istrinya menolak, kecuali Dia yang berada di langit marah kepadanya sampai suaminya memberikan ridhonya.” (HR Syaikhon)
6.Istri tidak melakukan shaum sunnah tanpa izin suami
Islam sangat memperhatikan kebutuhan manusia termasuk kebutuhan dasar suami istri.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang istri melakukan shaum kecuali atas izin suaminya.” (HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban)
7.Membantu suami saat sempitnya dan menjaga hartanya saat lapangnya
Kisah yang sangat populer adalah kisah Asma binti Abu Bakar RA yang menceritakan: “Zubair menikahiku dan dia sama sekali tidak memiliki harta maupun sahaya. Tidak juga memiliki sesuatu selain kuda perang dan keledai pengangkut air. Maka aku memandikan kudanya, membersihkannya dan memberinya makan.
Aku memandikan kedelainya dan memberinya makan. Aku menimba air dan mengangkutnya dengan ember. Aku menumbuk gandum menjadi tepung dan membawa gandum di kepalaku dengan berjalan sejauh tiga farsakh. [DW]
Sumber: Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Sos., M.Si.