TIDAK semua orang yang kita temui akan memperlakukan kita dengan baik. Ada kalanya kita berhadapan dengan seseorang yang ucapannya menyakitkan, sikapnya membuat kecewa, atau perbuatannya meninggalkan luka di hati. Dalam keadaan seperti itu, wajar jika muncul keinginan untuk membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama agar orang tersebut merasakan apa yang telah kita rasakan.
Namun, sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk tidak mudah mengikuti dorongan hati ketika sedang terluka. Rasulullah memberikan contoh akhlak yang begitu indah dalam menghadapi orang-orang yang menyakiti beliau. Beliau tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk ikut berbuat buruk.
Baca Juga: Pantai Widarapayung yang Memesona Berada di Cilacap
Belajar Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Membalas keburukan dengan kebaikan memang bukan perkara mudah. Diperlukan hati yang lapang dan kesabaran yang besar. Ketika seseorang merendahkan kita, mungkin rasanya ingin segera membalas dengan perkataan yang lebih tajam. Ketika ada yang memperlakukan kita dengan tidak adil, rasanya sulit untuk tetap bersikap lembut. Tetapi justru di situlah akhlak kita diuji.
Menahan diri bukan berarti kita lemah. Tidak membalas bukan berarti kita tidak mampu. Terkadang, memilih diam dan tetap menjaga ucapan adalah bentuk kekuatan yang jauh lebih besar daripada memenangkan sebuah pertengkaran.
Jika belum mampu membalas keburukan dengan kebaikan, setidaknya jangan membalasnya dengan keburukan yang sama. Kita bisa memilih untuk menahan lisan, menjauh sementara, atau menyerahkan urusan tersebut kepada Allah. Jangan biarkan perlakuan buruk seseorang membuat hati kita dipenuhi kebencian.
Sebab, ketika kebencian terus dipelihara, yang paling lelah sering kali justru diri sendiri. Kita terus mengingat perkataan yang menyakitkan, memikirkan perlakuan orang lain, bahkan membawa kemarahan itu ke dalam aktivitas sehari-hari. Padahal, belum tentu orang yang menyakiti kita terus memikirkan apa yang telah dilakukannya.
Menjaga hati dari kebencian bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Kita tetap boleh merasa kecewa dan mengambil jarak dari orang yang menyakiti. Namun, jangan sampai rasa sakit tersebut mengubah kita menjadi pribadi yang sama buruknya.
Belajarlah seperti akhlak Rasulullah. Ketika disakiti, tetap berusaha menjaga kebaikan. Ketika dikecewakan, tetap memilih kesabaran. Dan ketika belum mampu membalas dengan kebaikan, tahanlah diri agar tidak membalas dengan keburukan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menguatkan kesabaran kita, dan menjaga lisan serta perbuatan kita. Karena salah satu kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membalas seseorang, melainkan ketika kita mampu tetap menjadi orang baik meskipun pernah diperlakukan dengan buruk.
Sumber: Ustadzah Aisyah Farid





