INDUSTRI kecantikan memiliki posisi yang cukup strategis dalam mendorong gerakan keberlanjutan. Di satu sisi, industri ini bergantung pada bahan alam dan kemasan, sementara di sisi lain produk kecantikan digunakan masyarakat dalam keseharian sehingga turut memengaruhi pilihan dan kebiasaan konsumen.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Beauty in Sustainability, side event Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Dalam forum tersebut, muncul pesan bahwa apa yang dipengaruhi oleh industri kecantikan pada akhirnya turut menentukan dampaknya. Produk kecantikan yang digunakan setiap hari membuat keputusan brand terkait bahan baku, kemasan hingga cara menyampaikan pesan kepada konsumen memiliki peran dalam membentuk kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Corporate Affairs Director ParagonCorp, Astri Wahyuni, menyampaikan bahwa keberlanjutan seharusnya tidak baru diperhatikan setelah sebuah produk selesai dibuat. Menurutnya, prinsip tersebut perlu diterapkan sejak tahap awal perencanaan dan formulasi produk.
“Keberlanjutan tidak dimulai di tahap akhir, tetapi sejak sebuah produk direncanakan dan diformulasikan. Kami menyadari bahwa pertumbuhan bisnis selalu membawa dampak bagi manusia dan lingkungan. Karena itu, sustainability perlu dipraktikkan oleh setiap Paragonian di sepanjang value chain, mulai dari bagaimana produk dirancang hingga bagaimana kami terus menghadirkan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Astri dalam panel Reimagining Business & Beyond.
Baca juga: ParagonCorp Ajak Founder Brand Kecantikan Lokal Wujudkan Industri Beauty yang Berkelanjutan
Industri Kecantikan dan Tantangan Keberlanjutan, ParagonCorp Dorong Perubahan dari Hulu
Peneliti psikologi konsumen Kang Azhar turut membahas bagaimana pengaruh sebuah brand dapat membantu mendorong konsumen mengubah niat baik menjadi tindakan nyata.
Menurutnya, pendekatan berbasis ilmu perilaku diperlukan agar pesan keberlanjutan dapat diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan keberlanjutan yang dilakukan secara kredibel juga dapat memengaruhi cara konsumen memandang dan merespons sebuah perusahaan.
Dalam forum tersebut, ParagonCorp memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan dalam perjalanan keberlanjutannya.
Melalui Paragon Empties Station, sebanyak 83.326 produk kecantikan bekas telah dikembalikan oleh konsumen. Sementara itu, lebih dari 3,3 ton plastik telah diolah kembali melalui program Paragreen.
Dari sisi kemasan, brand tavi telah menggunakan 30 persen plastik daur ulang, sedangkan kemasan emina menggunakan plastik 10 persen lebih sedikit.
Upaya keberlanjutan juga diterapkan pada pengembangan formula. Earth Love Life menghadirkan formula yang 100 persen dapat terurai secara alami. Sementara tavi mengembangkan formula yang lebih ramah terhadap terumbu karang.
Tidak hanya berfokus pada produk, ParagonCorp juga menjalankan program yang berkaitan dengan akses air bersih dan pemulihan lingkungan.
Bersama Komodo Water, ParagonCorp menghadirkan akses air bersih bagi dua desa di Nusa Tenggara Timur. Sementara melalui kolaborasi dengan Indika Nature, sebanyak 131 hektare lahan terdegradasi dipulihkan sekaligus memberikan dukungan kepada sekitar 400 warga di enam desa.
Pesan mengenai keberlanjutan juga dihadirkan secara langsung kepada pengunjung. Salah satunya melalui pengalaman virtual reality Would You Walk for Water? yang mengajak pengunjung melihat perjalanan warga Nusa Tenggara Timur dalam memperoleh akses air bersih.
Pengunjung juga dapat melihat berbagai produk hasil pengolahan kembali kemasan di area pameran.
Prinsip keberlanjutan turut diterapkan dalam penyelenggaraan Beauty in Sustainability. Bersama Jejakin, ParagonCorp mengukur emisi yang dihasilkan selama acara dan berkontribusi pada penanaman 300 pohon di Yogyakarta.
Sementara itu, pengelolaan sampah acara dilakukan bersama Rekosistem. Banner bekas akan diolah Mortier menjadi material dan produk fungsional baru. Adapun dekorasi acara disiapkan bersama Purana Indonesia dan Dusdukduk dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Ke depan, ParagonCorp menargetkan berbagai program keberlanjutannya dapat memberikan dampak kepada 10 juta orang, atau sekitar 3,5 persen populasi Indonesia, pada 2050.
Perusahaan juga menargetkan untuk menjadi net positive bagi planet, dengan prinsip memberikan kembali kepada lingkungan dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sumber daya yang diambil.
Panel Reimagining Business & Beyond turut menghadirkan Co-Founder Pandawara, Muchamad Ikhsan Destian, serta pegiat edukasi lingkungan Giri Marhara.
Melalui forum ini, isu keberlanjutan tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari strategi perusahaan, tetapi juga sebagai upaya membangun perubahan yang melibatkan industri, konsumen, masyarakat, dan lingkungan secara bersama-sama. [Din]





