ADA luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa begitu nyata di dalam hati. Ada perkataan yang mungkin hanya diucapkan beberapa detik, tetapi terus teringat selama berhari-hari. Ada pula perlakuan seseorang yang membuat kita kecewa hingga sulit untuk kembali percaya. Ketika mengalami hal seperti itu, memaafkan sering kali terasa jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.
Kita mungkin berpikir bahwa orang yang telah menyakiti kita tidak pantas mendapatkan maaf. Ada rasa kecewa yang membuat hati ingin mempertahankan kemarahan. Bahkan terkadang kita merasa bahwa dengan tidak memaafkan, kita sedang memberikan hukuman kepada orang tersebut.
Baca Juga: Menyelami Rahasia Surat Al Araf sebagai Cahaya Petunjuk
Memaafkan Adalah Cara Menenangkan Hati
Padahal, terlalu lama menyimpan kebencian justru dapat membuat diri sendiri semakin lelah. Setiap kali mengingat kejadian yang menyakitkan, hati kembali terluka. Kemarahan yang dipelihara terus-menerus perlahan memenuhi pikiran dan membuat hidup terasa tidak tenang.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang dilakukan seseorang kepada kita adalah benar. Memaafkan juga tidak selalu berarti kembali dekat atau memberikan kepercayaan seperti sebelumnya. Ada kalanya kita tetap perlu menjaga jarak dan membuat batasan agar tidak kembali terluka.
Memaafkan lebih kepada keputusan untuk berhenti membawa beban kemarahan ke dalam kehidupan kita. Kita memilih untuk tidak terus-menerus hidup dalam bayang-bayang kesalahan orang lain. Kita menyerahkan urusan yang tidak mampu kita selesaikan kepada Allah dan berusaha melanjutkan kehidupan dengan hati yang lebih lapang.
Memang, tidak semua luka bisa sembuh dalam satu malam. Ada hati yang membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar ikhlas. Tidak perlu memaksakan diri berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Berdoalah kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk perlahan melepaskan rasa sakit tersebut.
Ketika kita belajar memaafkan, bukan berarti kita kalah. Justru ada keberanian di dalamnya. Kita berani memilih kedamaian daripada dendam. Kita memilih ketenangan daripada terus memikirkan bagaimana membalas seseorang. Kita juga memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menentukan siapa diri kita.
Jika hari ini masih ada seseorang yang membuat hati terasa berat, mungkin sudah waktunya belajar melepaskannya sedikit demi sedikit. Tidak harus langsung melupakan semuanya. Cukup mulai dengan berdoa, “Ya Allah, lapangkanlah hatiku dan ajarkan aku untuk memaafkan.”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab terkadang, obat terbaik bagi hati yang terluka bukanlah menunggu orang lain meminta maaf. Melainkan ketika kita sendiri berani memutuskan untuk berhenti memelihara kebencian.
Memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri. Dengan memaafkan, kita memberi kesempatan kepada hati untuk beristirahat, kepada pikiran untuk kembali tenang, dan kepada diri sendiri untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih damai. [DW]
Sumber: dr.Zaidul Akbar





