PERNAHKAH merasa hari-hari berlalu begitu cepat tetapi ibadah justru semakin sering tertunda? Pekerjaan terus diselesaikan dan berbagai urusan dunia seolah tidak ada habisnya. Namun ketika tiba waktunya membaca Al-Qur’an atau melakukan amalan kebaikan lainnya justru muncul rasa malas.
Kondisi seperti ini terkadang tidak disadari. Kita merasa sedang menjalani kehidupan seperti biasanya padahal ada kebiasaan kecil yang perlahan membuat hati semakin jauh dari Allah SWT.
Godaan setan tidak selalu datang dalam bentuk ajakan melakukan dosa besar. Terkadang godaan tersebut hadir melalui rasa malas menunda kebaikan terlalu mencemaskan masa depan hingga sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.
Jika dibiarkan kebiasaan tersebut bisa menghambat seseorang untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu penting bagi setiap Muslim untuk mengenali hal-hal yang dapat melemahkan keimanan dan berusaha memperbaikinya.
Baca Juga: Ini Dia Sejarah Kue Cincin serta Resep Pembuatannya
Apa Saja 6 Kebiasaan yang Diam-Diam Menjauhkan Kita dari Allah? Kenali dan Perbaiki Sebelum Terlambat
6 Kebiasaan yang Diam-Diam Menjauhkan Kita dari Allah
1. Malas dan sering menunda melakukan kebaikan
Salah satu kebiasaan yang perlu diwaspadai adalah terlalu sering menunda sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan sekarang. Misalnya menunda salat membaca Al-Qur’an bersedekah atau memperbaiki kesalahan diri.
Kita sering berkata bahwa masih ada waktu untuk melakukannya nanti. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama kesempatan hidup yang masih diberikan Allah.
Menunda kebaikan juga dapat membuat seseorang semakin terbiasa mengabaikan kewajibannya. Karena itu ketika memiliki kesempatan untuk melakukan amal saleh sebaiknya segera dikerjakan.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan kesempatan sebelum datang berbagai keadaan yang dapat menghalangi seseorang beramal.
2. Terlalu banyak memikirkan masa depan
Memikirkan masa depan memang diperlukan agar kita bisa mempersiapkan kehidupan dengan baik. Namun terlalu larut dalam kecemasan justru dapat membuat hati kehilangan ketenangan.
Ada orang yang terus memikirkan pekerjaan rezeki jodoh hingga berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Akibatnya waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Sebagai seorang Muslim kita perlu berusaha dan merencanakan kehidupan. Namun jangan lupa bahwa hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah SWT.
Dalam Surah At-Talaq ayat 3 Allah menjelaskan bahwa siapa saja yang bertawakal kepada-Nya maka Allah akan mencukupkan keperluannya.
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menyerahkan seluruh pikiran kepada kecemasan. Lakukan ikhtiar terbaik kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.
3. Terlalu sibuk mengejar urusan dunia
Bekerja mencari nafkah dan berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Bahkan mencari rezeki halal merupakan bagian dari ikhtiar yang baik.
Namun masalah muncul ketika urusan dunia mengambil seluruh perhatian hingga seseorang melupakan kewajiban kepada Allah.
Ada yang begitu sibuk mengejar kekayaan popularitas dan jabatan sampai tidak memiliki waktu untuk beribadah. Bahkan terkadang seseorang merasa belum cukup meskipun sudah mendapatkan banyak nikmat.
Padahal kehidupan dunia hanya sementara. Harta dan pencapaian tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan kehidupan ini.
Karena itu jadikan dunia sebagai sarana untuk mengumpulkan bekal akhirat bukan sebagai tujuan utama kehidupan.
4. Kehilangan fokus dan arah hidup
Kebiasaan berikutnya adalah menjalani hari tanpa mengetahui tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Seseorang mungkin memiliki banyak aktivitas tetapi tidak semuanya membawa manfaat bagi kehidupan dan akhiratnya.
Setiap hari sibuk bekerja menggunakan media sosial dan mengikuti berbagai kesibukan. Namun lupa mengevaluasi apakah aktivitas tersebut membuat dirinya semakin dekat kepada Allah.
Seorang Muslim perlu memiliki tujuan hidup yang jelas. Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56 bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar kesenangan dunia. Ada tanggung jawab sebagai hamba Allah yang perlu dijalankan.
5. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain
Melihat pencapaian orang lain terkadang membuat kita merasa tertinggal. Apalagi ketika membuka media sosial dan melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia sukses atau berkecukupan.
Tanpa disadari kebiasaan ini dapat memunculkan rasa iri dan tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Padahal setiap orang memiliki perjalanan hidup rezeki dan ujian yang berbeda. Apa yang terlihat menyenangkan dari kehidupan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan yang sedang dihadapinya.
Daripada terus membandingkan diri cobalah belajar mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Fokuslah memperbaiki diri tanpa harus merasa lebih rendah dari orang lain.
6. Menolak ajakan untuk melakukan kebaikan
Ketika seseorang mengingatkan kita untuk salat berjamaah mengaji bersedekah atau memperbaiki akhlak bagaimana respons yang diberikan?
Jika hati justru merasa terganggu dan enggan menerima nasihat maka hal tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Nasihat yang baik merupakan salah satu bentuk kasih sayang. Allah dapat menghadirkan orang-orang yang mengingatkan kita agar tidak terus berada dalam kesalahan.
Jangan sampai kesombongan membuat kita merasa selalu benar dan menolak setiap nasihat. Belajarlah menerima teguran dengan hati terbuka selama nasihat tersebut mengajak kepada kebaikan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Bagaimana Cara Memperbaiki Diri?
Enam kebiasaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga keimanan membutuhkan usaha dan kesungguhan. Mulailah dari langkah sederhana seperti menjaga salat lima waktu membaca Al-Qur’an setiap hari memperbanyak istigfar dan memilih lingkungan pertemanan yang mengajak kepada kebaikan.
Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Sebab setiap manusia memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan.
Yang terpenting adalah tidak berhenti berusaha kembali kepada Allah. Semoga kita senantiasa diberikan hati yang lembut kemudahan dalam menjalankan kebaikan serta kekuatan untuk menjauhi segala hal yang dapat melemahkan iman. Aamiin. [DW]
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





