KELOMPOK Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah Batang menggelar kegiatan manasik haji pada Ahad, 1 Februari 2026, bertempat di Gedung KBIHU Aisyiyah, Jalan Wachid Hasyim, Kauman, Batang, dan dilanjutkan dengan praktik di Masjid An-Nur. Kegiatan ini diikuti sekitar 70 calon jemaah haji dari wilayah Batang Timur dan Batang Barat yang mengikuti seluruh rangkaian dengan khidmat.
Manasik dipandu oleh pembimbing jemaah haji, H. Harjono, yang menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan perjalanan ibadah haji sesuai tuntunan.
Ia menerangkan bahwa jemaah berangkat menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah sesuai jadwal kloter, ada yang berangkat pada pagi hari dan ada pula yang sore hari.
Pada 9 Dzulhijjah, jemaah melaksanakan puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah. Di sana, jemaah melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar dengan jamak qashar, memperbanyak zikir dan doa, kemudian melaksanakan shalat Maghrib sebelum bergerak menuju Muzdalifah.
“Wukuf di Arafah adalah inti dari ibadah haji. Waktu ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah. Bahkan, bagi suami istri, ini momen yang baik untuk saling memaafkan dan memperbaiki niat,” ujar H. Harjono di hadapan para peserta manasik.
Ia juga mengingatkan agar jemaah menghindari perbuatan yang bisa melalaikan nilai ibadah.
“Jangan dihabiskan untuk mengobrol yang tidak perlu, apalagi bergosip. Makanan dan minuman sudah disediakan, jemaah boleh istirahat atau tidur, tapi tetap prioritaskan ibadah,” tegasnya.
Di Muzdalifah, jemaah melaksanakan mabit sekaligus mengambil batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah. Jemaah berada di Muzdalifah hingga sekitar tengah malam, dengan arahan agar mengambil posisi di sebelah timur sesuai lokasi penjemputan bus guna memudahkan mobilisasi.
Setelah itu, jemaah melanjutkan perjalanan ke Mina, tempat disediakannya tenda-tenda pemondokan, untuk mempersiapkan diri melaksanakan rangkaian ibadah berikutnya.
Pada 10 Dzulhijjah, jemaah melaksanakan lempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh lontaran, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan hadyu bagi yang wajib, serta melakukan tahalul awal dengan memotong atau mencukur rambut minimal tiga helai.
Setelah itu, jemaah menuju Mekkah untuk melaksanakan thawaf ifadah sebagai rukun haji, dilanjutkan dengan sa’i antara Shafa dan Marwah. Dengan selesainya rangkaian ini, jemaah melakukan tahalul tsani sehingga seluruh larangan ihram telah gugur.
Baca juga: Manasik Haji KBIHU Aisyiyah Batang Perkuat Pemahaman Jemaah melalui Simulasi Ibadah
Manasik Haji KBIHU Aisyiyah Batang Mantapkan Praktik Jemaah
Selanjutnya, jemaah kembali ke Mina untuk mabit pada hari-hari tasyrik, yakni 11 dan 12 Dzulhijjah, serta 13 Dzulhijjah bagi yang mengambil nafar tsani.
Pada hari-hari tersebut, jemaah melaksanakan lempar tiga jumrah, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Bagi jemaah nafar awal, mereka meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah setelah selesai melontar jumrah, sementara nafar tsani melanjutkan hingga 13 Dzulhijjah.
Dalam manasik tersebut, pembimbing juga menjelaskan tentang haji tamattu’, yaitu pelaksanaan haji dengan cara mendahulukan umrah pada bulan-bulan haji, kemudian bertahalul, dan pada 8 Dzulhijjah kembali berihram untuk melaksanakan ibadah haji.
Pola ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh jemaah Indonesia karena dinilai lebih ringan dan memberikan waktu istirahat di Makkah sebelum memasuki puncak ibadah haji. Bagi jemaah haji tamattu’, diwajibkan membayar dam sebagai bagian dari ketentuannya.
“Haji tamattu’ ini yang paling sering dipilih jemaah kita. Karena setelah umrah bisa bertahalul dan beristirahat dulu, lalu masuk lagi ke rangkaian haji. Tapi tetap harus dipahami urutannya supaya tidak keliru saat praktik di Tanah Suci,” jelas H. Harjono.
Setelah seluruh rangkaian di Mina selesai, jemaah kembali ke Mekkah dan sebelum meninggalkan kota suci melaksanakan thawaf wada’ sebagai thawaf perpisahan, kecuali bagi perempuan yang sedang haid atau nifas. Dengan itu, rangkaian ibadah haji pun dinyatakan selesai.
Kegiatan manasik ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman dan kesiapan jemaah, baik secara mental, fisik, maupun spiritual, agar kelak dapat melaksanakan ibadah haji dengan tertib, benar, dan penuh kekhusyukan, serta berharap meraih predikat haji yang mabrur.[ind]





