• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 1 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Ibadah Haji Tempo Dulu

17/05/2026
in Khazanah, umroh
Perjalanan Ibadah Haji Tempo Dulu

Gambar oleh ekrem dari Pixabay

98
SHARES
757
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

PERJALANAN ibadah haji pada masa dulu tentu tidak semudah sekarang yang lebih mudah dan memakan waktu lebih sebentar.

Dahulu sebelum adanya kapal laut, apalagi pesawat terbang, umat Muslim di Indonesia yang ingin pergi menunaikan ibadah haji mempergunakan kapal layar dengan waktu perjalanan sekitar 3 bulan lamanya.

Deminikan juga perjalanan pulang ke tanah air, menghabiskan waktu selama 3 bulan pula. Jadi, lamanya umat Muslim Indonesia yang menunaikan ibadah haji pada masa dulu yaitu 6 bulan mengarungi lautan.

Oleh karena itu, banyak jamaah haji dulu dalam perjalanan ke tanah suci diserang penyakit, bahkan sampai meninggal dunia sebelum sampai ke Mekkah. Demikian juga perjalanan pulang mereka ke tanah air akibat tidak tahan berbulan-bulan di lautan.

Baca Juga : Pria Asal Austria Ini Berjalan Kaki Menuju Mekkah untuk Melaksanakan Ibadah Haji

Perjalanan Ibadah Haji Tempo Dulu

Konon pada ibadah haji tempo dulu, jamaah haji Indonesia tidak langsung berangkat ke Mekkah, namun lebih dulu singgah di Serambi Mekkah yaitu Aceh, setelah itu baru berangkat dengan kapal ke Mekkah.

Beberapa sumber sejarah menyebutkan julukan Aceh sebagai “Serambi Mekkah” karena Aceh dulu adalah tempat berkumpulnya jamaah haji yang ingin melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Pada waktu itu jamaah haji yang melaksanakan rukun islam kelima ini sangat sedikit. Jamaah haji Indonesia ketika itu harus melalui Malaka di Aceh.

Malah menurut sejarah, para jamaah haji dari berbagai daerah di Indonesia saat itu setibanya di Aceh mereka lebih dulu belajar manasik haji sampai berbulan-bulan sebelum melanjutkan perjalanannya ke Mekkah.

Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Salah satu lokasi tempat belajar manasik haji yang sangat  terkenal di Aceh saat itu adalah di Pelanggahan yang terletak di pinggir Krueng Aceh, di mana kapal-kapal saat itu banyak berlabuh.

Di Kampung Pelanggahan ini dulu ada sebuah balai pengajian yang letaknya persis di pinggir Krueng Aceh dan sebuah Masjid yang sangat indah, yatu Masjid Tgk. Di Anjong, namun sayang dalam bencana tsunami tahun 2004 lalu, Masjid ini hancur total.

Jamaah haji dulu setelah belajar manasik haji dan ilmu-ilmu agama lainnya di Pelanggahan barulah mereka berangkat ke Mekkah. Demikian pula saat mereka pulang dari tanah suci, juga singgah di Serambi Mekkah (Aceh).

Pada masa Belanda, jamaah haji tidak berangkat melalui bandar Pelanggahan Aceh, tapi diberangkatkan melalui Sabang, Pulau Weh. Di Sabang dulu ada karantina haji (tempat berkumpulnya jamaah calon haji) yang dibuat Belanda.

Saat itu para jamaah haji yang berangkat ke Mekkah tidak lagi menggunakan kapal layar, tapi menggunakan kapal uap. Ini berarti perjalanan haji ke Mekkah sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Zaman pun terus berubah, kapal uap pun berganti dengan kapal mesin, namun pemberangkatan jamaah calon haji saat itu tetap melalui Sabang.

Baru sekitar tahun 1960-an, jamaah haji Aceh mulai diberangkatkan dengan pesawat melalui Bandara Polonia Medan. Saat itu jamaah haji sangat dibatasi karena pesawatnya sangat kecil.

Pada tahun 1967 jamaah haji berangkat melalui Sabang dengan menggunakan kapal KM Abeto milik asing. Kapal ini bukan kapal penumpang tapi kapal pengangkut barang sehingga jamaah haji sangat tidak nyaman, karena ditempatkan di ruang palka tempat menyimpan barang-barang hasil bumi.

Jamaah haji Indonesia yang berangkat dari Sabang ke Jeddah saat itu memakan waktu 12 hari pergi dan 12 hari pulang. Tetapi untuk jamaah haji dari Jawa, kalimantan, Sulawesi dan daerah lain di luar Aceh tentu lebih lama perjalanannya.

Perjalanan haji dengan kapal laut melalui Sabang berakhir pada tahun 1975. Kemudian jamaah haji asal Aceh dialihkan melalui Polonia Medan dengan menggunakan pesawat terbang.

Begitu sulit dan panjangnya perjalanan haji pada masa dulu yang harus melalui berbagai macam proses dan perjalanan yang memakan waktu sangat lama. [MRR/Sdz]

Sumber : Menelusuri Jejak Sejarah Islam Melalui Ritual Ibadah Haji dan Umrah, oleh : H. Harun Keuchik Leumiek

Tags: hajimanasiktempo duluumroh
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Mengatasi Gagal Ginjal dengan Resep JSR

Next Post

Kelicikan Syetan dalam Menyesatkan Manusia

Next Post
Semoga Kita Tidak Lupa, Untuk Apa Kita Diciptakan

Kelicikan Syetan dalam Menyesatkan Manusia

Jus Kubis dan Wortel Dapat Membasmi Sel-Sel Kanker

Jus Kubis dan Wortel Dapat Membasmi Sel-Sel Kanker

Jadikanlah Segala Sesuatu Bernilai Zikir

Sa`d bin Ubadah Mempersilakan 80 Kaum Muhajirin Makan di Rumahnya

  • Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    266 shares
    Share 106 Tweet 67
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8553 shares
    Share 3421 Tweet 2138
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Resep Siomay Gluten Free ala Chef Devina Hermawan

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Doa Ketika Selesai Sa’i

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11392 shares
    Share 4557 Tweet 2848
  • Rakerwil Salimah Jakarta Konkretkan Kesolidan untuk Program Berdampak

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Tumis Jantung Pisang Ala Chef Rudy Choirudin, Lauk Tradisional yang Kaya Rasa

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Makna 4 Sumpah Allah Pada Surah At-Tiin

    340 shares
    Share 136 Tweet 85
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3849 shares
    Share 1540 Tweet 962
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga