JADILAH seperti penghuni dasar lautan. Meskipun badai di permukaan laut begitu besar, di dalamnya tetap nyaman.
Bahagia itu bukan ketika orang memiliki banyak hal. Justru, bahagia itu ketika orang tidak merasa perlu dengan semua hal.
Rumus berikut ini semoga bisa membantu seseorang untuk tetap bahagia meskipun hidup di suasana krisis multi dimensi.
Satu, Jangan Terlalu Disibukkan dengan yang Tak Bisa Kita Kendalikan
Banyak orang yang berpikir bahwa banyak tahu itu istimewa. Padahal, justru karena banyak tahu orang kadang menjadi sangat menderita.
Misalnya, isu tentang ijazah palsu, nilai dolar AS, phk yang luar biasa, krisis moral para pejabat, dan lainnya.
Semua yang kita ketahui itu hampir seratus persennya di luar kendali kita. Artinya, baik atau buruk, terus berlangsung atau berhenti, berdampak besar atau kecil; hampir-hampir tak mungkin bisa kita kendalikan.
Nah, ketika terjadi kesenjangan antara idealisme diri dengan kenyataan yang terus kita cermati itu, maka akan terjadi kegelisahan, kemarahan, dan lainnya. Inilah yang menjauhkan kita dari rasa bahagia.
Dua, Stop Ingin selalu Menjadi Orang Lain
Kadang kita menginginkan apa yang telah diperoleh oleh orang lain, terutama materi. Mungkin karena orang itu kaya, berkuasa, pandai, dan lainnya.
Sehingga, kita pun hidup dalam bayang-bayang sosok yang kita inginkan itu. Pergantian hari atau waktu adalah upaya keras untuk menjadi orang yang kita inginkan. Dan hal itu sangat melelahkan.
Padahal, kesempurnaan seseorang secara materi itu sangat relatif. Karena, materi tidak pernah membuat orang bahagia sempurna.
Tiga, Batasi pada yang Diperlukan bukan yang Diinginkan
Dunia materialisme membimbing orang menjadi serba kurang dalam segala keinginan. Setiap ada model hape baru, kita tiba-tiba menjadi orang yang paling jadul. Setiap ada profesi baru yang ‘menjanjikan’, kita menjadi orang yang paling tertinggal.
Orang-orang ini akan terus dipermainkan oleh belanja. Ada kepuasan tersendiri ketika berlangsung transaksi ‘memiliki’ yang baru.
Padahal, tidak semua yang baru adalah yang kita perlukan. Dan tidak semua posisi ‘sukses’ seseorang adalah juga ‘sukses’ untuk diri kita. [Mh]


