• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Selasa, 1 September, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Suami Istri

Menanam Maaf

27/09/2021
in Suami Istri, Unggulan
Menanam Maaf

Foto: PIxabay

77
SHARES
589
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

ChanelMuslim.com – Menanam maaf. Ada ucapan sederhana yang teramat dahsyat. Ia bisa menghancurleburkan gunung emosi. Ia juga mampu mencairkan kerasnya baja amarah. Dan, teramat cocok buat melunturkan noda-noda hasad. Ia cuma ucapan empat kata: “Maaf!”

Suasana hidup berkeluarga tak beda dengan pergaulan dalam masyarakat. Ada saatnya persentuhan melahirkan damai, tenang, membahagiakan.

Tapi, ada saatnya menimbulkan gesekan. Terlebih ketika menyadari bahwa manusia tak mungkin luput dari salah dan khilaf. Siapa pun. Termasuk, suami, isteri, anak, bahkan mertua.

Masalahnya, tidak semua anggota rumah terlatih mengucapkan maaf. Karena ucapan yang terkesan sederhana ini tampaknya butuh kekuatan besar dalam jiwa. Perlu kerendahan hati untuk siap berbagi ego.

Seperti itulah yang dirasakan Bu Noni. Ibu satu anak ini kadang merasa bingung dengan suaminya. Ia heran, kenapa belum pernah terdengar ucapan maaf dari mulut suaminya. Walau sekali pun.

Padahal, hampir tiga tahun ia berumah tangga. Artinya, sudah lebih dari seribu hari ia hidup seatap dengan suaminya. Entah berapa jenis suka dan duka ia geluti bersama.

Dan tentu saja, entah berapa kekhilafan yang pernah dilakukan antara ia dan suami. Atau, sebaliknya.

Mulai dari hal-hal kecil seperti tak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah. Sampai, marah besar hanya karena persoalan anak-anak.

Namun, dari semua peristiwa, belum pernah keluar ucapan maaf. Seolah kesalahan itu seperti sebuah kewajaran.

Seolah ketidaksengajaan menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkeluarga. Seolah, seorang suami boleh berbuat salah. Tak ada yang dirugikan. Tak ada yang perlu dipersoalkan. Dan seolah, Bu Noni bertepuk sebelah tangan.

Buat Bu Noni, ucapan maaf sudah bukan barang mahal. Ia tak lagi merasa berat untuk bilang, “Maaf!” Kepada siapa pun: suami, anak, mertua, bahkan pembantu.

Ia yakin, ucapan maaf bisa melunakkan ganjalan-ganjalan hati. Mungkin saja, seorang pembantu terlihat penurut. Pendiam.

Tapi, karena persoalan ‘maaf’ yang terasa kecil itu, ia bisa menjadi bibit bom waktu. Suatu saat, bisa meledak.

Begitu pun dengan suami. Bu Noni sudah teramat biasa mengucapkan itu. Pernah ia mendapati suaminya yang meringis saat mencicipi sayur asam olahannya.

Dengan segera, ia mendekati sang suami. “Eh, keasamannya, ya Yah! Maaf, ya!”

Bu Noni sangat menyadari kalau ungkapan sederhana itu bukan sekadar pelarian. Bukan basa-basi agar korban tidak lebih curiga atau marah.

Bukan juga ungkapan ketundukan karena dilatari rasa takut, minder. Bukan itu. Justru, itulah ungkapan kehormatan yang keluar dari hati para pemberani.

Bu Noni juga yakin, ungkapan maaf juga merupakan penghargaan kepada nilai-nilai kemanusiaan yang Allah saja meninggikan nilai itu.

Bahwa, kesalahan apa pun, disengaja atau tidak, besar atau kecil, bisa diartikan sebagai pengurangan hak seseorang.

Sebenarnya, Bu Noni ingin sekali bicara dari hati ke hati ke suami. Tapi, ia khawatir malah jadi salah sangka. Niat baik kalau salah terima bisa berakibat buruk.

Kadang, Bu Noni jadi salah tingkah sendiri. Apa ada yang salah dengan dirinya. Karena boleh jadi, sikap suami seperti itu sebagai ungkapan protes.

Tapi rasa-rasanya, Bu Noni tak merasa pernah melakukan kesalahan fatal. Kalau pun pernah, ia langsung minta maaf.

Dan permohonan maaf itu tak akan berhenti hingga ada jawaban dari suami. Paling tidak, ada senyum yang membalas.

Atau, jangan-jangan Bu Noni sendiri yang terlalu berperasaan. Bu Noni merenung dalam-dalam.

“Benarkah begitu?” suara pelan berbisik dari balik lubuk hatinya yang dalam. Tapi, apa mungkin selama itu. Lagi pula, kalau pun memang teramat peka, Bu Noni bisa membedakan mana yang wajar dan mana yang agak lain.

Baca Juga: Muliakan Hati dengan Berani Minta Maaf

Menanam Maaf

Ah, hidup berumah tangga memang butuh kesabaran. Suara batin Bu Noni kembali menengahi, membangkitkan sebuah kesadaran.

Boleh jadi, ia belum mengenal suaminya. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama buat sebuah perkenalan.

Mungkin saja, sikap cuek dengan kesalahan kecil buat seseorang bukan menjadi masalah besar. Tergantung bagaimana pola asuh sejak kecil.

Atau, ada takaran sendiri dalam lingkungan keluarga suami Bu Noni. Tentu akan sangat beda antara standar orang Betawi dengan Solo. Akan sangat beda antara Medan dengan Sunda.

Di situlah adaptasi berperan besar. Perkenalan yang baik akan berujung pada pemahaman yang pas tentang pasangan. Dan kunci dari semua itu adalah mau bicara terus terang.

Apa yang dianggap salah. Apa yang dirasa mengganjal. Memang, perlu kecerdikan dan kesabaran agar alur komunikasi bisa berlangsung dua arah.

Masalahnya, mampukah Bu Noni melontarkan uneg-unegnya dengan baik dan benar. Bukan asal protes. Dan, segala sesuatu memang perlu seni. Termasuk dalam menjalin komunikasi.

Boleh jadi, di situlah kelemahan Bu Noni. Ia mampu menampung uneg-uneg tanpa mengurangi kesabaran dan kesetiaan. Tapi, kurang sukses mengalirkannya tanpa beban.

Bu Noni kian tersadar. Kini, saatnya ia menata keharmonisan rumah tangganya dengan menghidupkan terus terang. Mungkin saja, sang suami tergolong pria yang mau bicara kalau diminta.

Dan bukankah ini pembiasaan terbaik buat budaya rumah tangganya di masa depan. Saat ini, ia yang mesti mulai bicara. Esok, mungkin suami dan anak.

Dan saat itulah, semua orang di keluarganya tak lagi menganggap remeh ucapan sederhana yang mampu mengubah hal besar.

Agar tak ada lagi yang canggung atau merasa tidak perlu berucap, “Maaf! Saya memang salah!”.[Mnh/ind]

Sumber: Eramuslim > Menanam Maaf

Tags: menanam maaf
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Anggota Parlemen Rusia Desak Media Tidak Gunakan Istilah Teroris Islam

Next Post

Toleransi di Rumah Keluarga Pisarzewski

Next Post
Koreksi terhadap Kaidah Toleransi

Toleransi di Rumah Keluarga Pisarzewski

Adakah Anjuran Rasulullah Mengadzankan Bayi Ketika Lahir?

Kebersihan Perlengkapan Makan Minum Bayi Hal Terpenting yang Perlu Ibu Perhatikan

Masalah Kulit Sering Terjadi pada Bayi di Indonesia

Masalah Kulit Sering Terjadi pada Bayi di Indonesia

  • Fenomena Danau dan Sungai Kering di Kalimantan

    Fenomena Danau dan Sungai Kering di Kalimantan

    750 shares
    Share 300 Tweet 188
  • 5 Objek Wisata Dekat Stasiun Solo Balapan yang Seru untuk Dijelajahi

    120 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Ragam Manfaat Teh Rosella untuk Kesehatan Tubuh

    198 shares
    Share 79 Tweet 50
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9223 shares
    Share 3689 Tweet 2306
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4174 shares
    Share 1670 Tweet 1044
  • Cara Merawat Baju Velvet Agar Tetap Mewah dan Awet

    84 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1255 shares
    Share 502 Tweet 314
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    757 shares
    Share 303 Tweet 189
  • Ular dan Penampakan Jin

    517 shares
    Share 207 Tweet 129
  • Kiyai Miftachul Akhyar

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga