• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Selasa, 21 April, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Parenting

Orangtua yang Depresi Bisa Mengganggu Kesehatan Jiwa Anak

12/04/2026
in Parenting
Penyebab depresi pasca persalinan

Foto: Pixabay/Darkmoon_Art

79
SHARES
609
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

SEBAGAI orangtua, kita juga perlu menghindari depresi karena bisa mengganggu kesehatan jiwa anak. Depresi adalah suatu kelainan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan hilang minat yang menetap.

Depresi bisa memengaruhi perasaan, cara berpikir dan berperilaku, serta bisa menimbulkan masalah emosi dan fisik. Depresi bisa mengganggu kehidupan penderitanya hingga penderita mempunyai keinginan untuk bunuh diri.

Depresi adalah kondisi medis yang bisa menyerang siapa saja. Jika tidak segera ditangani dengan benar dampak depresi bisa berimbas pada orang di sekeliling penderita.

Jika yang menderita depresi adalah orangtua maka yang akan terkena dampaknya yang paling dekat adalah anak-anak.

Baca Juga: Mengenal Tahap Depresi saat Berduka

Orangtua yang Depresi Bisa Menganggu Kesehatan Jiwa Anak

Jika orangtua mengalami depresi maka anak-anak juga bisa mengalami masalah pada kesehatan jiwanya. Bagaimana depresi orangtua bisa memengaruhi kejiwaan anak, berikut penjelasannya;

1. Gangguan perilaku dan emosi

Anak yang dibesarkan oleh orangtua depresi cenderung menunjukkan gangguan perilaku bahkan sejak masih bayi. Bayi yang orangtuanya depresi akan mengalami susah makan dan minum ASI, sulit untuk tidur nyenyak dan lebih sulit ditenangkan ketika menangis.

Pada anak usia di bawah lima tahun (balita) gangguan perilaku yang nampak antara lain emosi meledak-ledak, gangguan mood, dan gangguan defisit atensi dan hiperaktivitas (ADHD).

Sementara itu, anak usia sekolah sampai remaja yang orangtuanya depresi berisiko mengalami gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan mood, dan kecanduan (rokok, alkohol, atau obat-obatan).

Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Pediatrics pada 2011 menunjukkan bahwa sosok ayah menderita depresi kemungkinan anaknya mengalami gangguan perilaku dan emosi naik dua kali lipat.

Sementara, jika ibunya yang menderita depresi, risiko anak mengalami gangguan perilaku dan emosi mencapai tiga kali lipat. Jika kedua orangtuanya depresi, kemungkinan tersebut meroket hingga empat kali lipat.

2. Prestasi di sekolah menurun

Pada 2016, studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association Psychiatry membuktikan bahwa depresi orangtua berakibat buruk pada prestasi anak di sekolah.

Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal. Yang pertama, depresi yang dialami ayah dan atau ibu mengakibatkan perubahan genetik pada saraf dan otak anak yang lahir.

Anak lahir dan tumbuh dengan gangguan sistem saraf pusat (neuro developmental problem) yang mengakibatkan saat balita, kemampuan berbahasa anak sangat terbatas. Ketika mencapai usia sekolah pun ia kesulitan mengikuti pelajaran.

Sebab yang kedua adalah depresi orangtua membuat ayah dan atau ibu kesulitan mendampingi anak dalam belajar. Anak juga mungkin disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga atau mengurus adiknya karena orangtuanya terlalu lemah untuk melaksanakan tugas-tugas hariannya.

Akibatnya, anak jadi sulit berkonsentrasi dan tidak punya waktu belajar.

3. Memandang rendah dirinya sendiri

Jika orangtuanya depresi, anak akan kesulitan membangun citra diri yang positif. Ia cenderung memandang rendah dirinya sendiri. Ini karena orangtua yang depresi lebih sering bersikap negatif dan mengkritik anak sebagai pelampiasan rasa depresinya.

Tak jarang pula anak menyalahkan dirinya sendiri atas depresi orangtua. Anak menganggap bahwa kehadirannya memicu depresi pada orangtuanya. Dalam beberapa kasus, orangtua secara tidak sadar menyalahkan anak sebagai penyebab depresi yang dialaminya.

Dalam jangka panjang, pola pikir anak tersebut bisa memengaruhi hubungan pribadi serta kariernya. Kesulitan mempertahankan hubungan dengan teman dekat dan kekasih kerap dikeluhkan oleh anak yang orangtuanya depresi.

Selain itu, anak juga bisa kehilangan semangat dan ambisi untuk mengejar karier. Anak merasa bahwa dirinya memang tidak pantas mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup.

4. Risiko anak mengalami depresi meningkat

Depresi adalah kondisi medis yang bisa diturunkan pada anak secara genetik. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat juga lebih berisiko mengalami depresi di kemudian hari.

Secara tidak sadar, anak menyimpan pola perilaku orangtuanya di dalam pikiran. Ketika bertemu pemicu sederhana seperti konflik dalam hidup bisa mengakibatkan anak menjadi depresi.

Empat hal di atas bisa dicegah dengan cara menangani depresi orangtua sejak dini. Jika orangtua mulai merasakan gejala depresi sebaiknya segera mencari pertolongan dengan melakukan konsultasi pada psikiater.

Jangan menyepelekan gejala-gejala depresi. Orang-orang di sekeliling anak juga sebaiknya langsung mencari bantuan ketika gejala depresi sekecil apapun muncul.

Anak bisa berkonsultasi pada guru konseling di sekolah, psikolog anak, atau psikiater. [MAY/Cms/Sdz]

Sumber: www.hellosehat.com

Tags: kesehatan jiwa anakorang tua depresi
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi yang Sehat

Next Post

Perbedaan Kulit Sensitif dan Alergi

Next Post
Perbedaan Kulit Sensitif dan Alergi

Perbedaan Kulit Sensitif dan Alergi

Pelecehan di FH UI: Saat Perintah Menundukkan Pandangan Diabaikan

Suami Sibuk dengan Handphone dan Pekerjaannya

Empat Tips Merawat Sepatu Kulit dengan Pewarna Alami

Empat Tips Merawat Sepatu Kulit dengan Pewarna Alami

  • Pahlawan yang Layak

    Hari Kartini, Mengenal 4 Pahlawan Berhijab asal Indonesia

    795 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Peran Besar Kaum Perempuan Terhadap Perubahan

    1161 shares
    Share 464 Tweet 290
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8239 shares
    Share 3296 Tweet 2060
  • Menghina Allah dalam Hati

    454 shares
    Share 182 Tweet 114
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3692 shares
    Share 1477 Tweet 923
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11266 shares
    Share 4506 Tweet 2817
  • Keutamaan Doa Rodhitu Billahi Robba

    3301 shares
    Share 1320 Tweet 825
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4548 shares
    Share 1819 Tweet 1137
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    756 shares
    Share 302 Tweet 189
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2060 shares
    Share 824 Tweet 515
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga