OPINI orang bermacam-macam. Jangan terpenjara dengan opini orang lain.
Ada pengalaman unik dari Lukmanul Hakim dan putranya. Hal itu terjadi ketika ia dan putranya berjalan dengan seekor keledai.
Ketika ia melewati sekumpulan orang, sosok keduanya bersama keledai yang tidak ditunggangi menjadi perhatian.
Ada yang komentar, “Kok bodoh sekali, ada keledai tapi tidak ditunggangi.”
Setelah melewati mereka, akhirnya Lukmanul Hakim menunggangi keledai, sementara putranya berjalan kaki.
Ketika melewati sekumpulan orang yang lain, sosok keduanya bersama keledai kembali menjadi perhatian.
Ada yang komentar, “Bapak macam apa menunggangi keledai, sementara putranya dibiarkan berjalan kaki.”
Setelah melewati mereka, akhirnya Lukmanul Hakim turun dari keledai, giliran putranya yang menunggangi sendirian.
Ketika melewati sekumpulan orang lain lagi, sosok keduanya lagi-lagi menjadi sorotan.
Ada yang komentar, “Anak macam apa seperti itu! Naik keledai seenaknya, sementara bapaknya yang sudah tua dibiarkan berjalan kaki.”
Setelah melewati mereka, akhirnya keduanya sama-sama menunggangi keledai. Rasanya, cara ini memang lebih baik.
Ketika melewati sekumpulan orang lain lagi, ternyata keduanya juga menjadi sorotan mereka.
Ada yang komentar, “Bapak dan anak sama saja. Sama-sama kejam dengan hewan. Kok tega satu keledai ditunggangi berdua!”
Dari pengalaman itu, Lukmanul Hakim memberikan pelajaran kepada putranya: mengikuti komentar orang lain hanya akan menyusahkan diri sendiri.
**
Era digital menjadikan media sosial menjadi begitu dahsyat. Hanya melalui hape, orang bisa menonton pengalaman orang lain, termasuk juga mengomentarinya.
Pasalnya, yang menonton dan yang mengomentari itu jumlahnya tidak satu atau dua orang. Tapi, bisa ribuan, bahkan lebih.
Benar seperti yang disampaikan Lukmanul Hakim kepada putranya: mengikuti komentar orang lain hanya akan menyusahkan diri sendiri. [Mh]




