YAHUDI itu juga manusia. Ada yang buruk, tapi ada juga yang baik. Apresiasi kebaikan mereka.
Ada di antara sahabat Rasulullah yang bukan sekadar orang Yahudi. Bahkan, ia seorang ulama Yahudi. Ia bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu.
Nama aslinya Husein bin Salam. Tapi ketika masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggantinya dengan Abdullah bin Salam. Nama pemberian dari Rasulullah itu begitu membuatnya bangga dan senang.
Abdullah bin Salam atau Ibnu Salam lahir di Madinah. Usianya jauh lebih tua dari Rasulullah, sekitar 20 tahun lebih tua. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, usia sudah tujuh puluhan.
Ia keturunan Nabi Yusuf alaihissalam. Ayahnya seorang rabbi Yahudi di Madinah. Dan ia pun meneruskan misi ayahnya sebagai rabbi atau ulama Yahudi. Hari-harinya dihabiskan lebih banyak untuk ibadah, mengkaji kitab Taurat, dakwah, dan lainnya.
Sejak berita adanya Nabi di tanah haram atau Mekah, Ibnu Salam terus meneliti sosok Nabi untuk dibandingkan dengan apa yang diisyaratkan dalam Kitab Taurat. Mulai dari silsilahnya, perilakunya, ciri-ciri fisiknya, dan lainnya.
Dari penelitian itu, kesimpulan bahwa itu benar Nabi sudah di atas lima puluh persen. Ia harus membuktikan sendiri secara langsung dengan menemuinya.
Ketika ada kabar bahwa Rasulullah hijrah ke Madinah, perasaan Ibnu Salam berbunga-bunga. Ia begitu bahagia akhirnya bisa bertemu dengan sosok mulia, Nabi terakhir.
Setibanya Nabi di Madinah, Ibnu Salam berlari menuju ke arah itu. Di situ, sudah banyak orang berkerumun untuk melihat sosok Nabi. Ibnu Salam melalui kerumunan itu untuk bisa lebih dekat dengan Nabi. Dan, berhasil.
Ia pandangi wajah Nabi. Dari pengamatannya, ia yakin bahwa dari wajah beliau menunjukkan bahwa beliau bukan seorang pendusta.
Ibnu Salam pun ingin mendengar, kalimat apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah: Wahai manusia, sebarkanlah salam. Berilah makan. Jalinlah silaturahim. Shalatlah di malam hari di saat orang tertidur. Niscaya, kalian akan masuk surga dengan salam.
Saat itu juga, Abdullah Salam yakin kalau sosok itu memang Nabi. Tapi, ia ingin mendapatkan kepastian dengan tiga pertanyaan yang akan ia ajukan langsung.
“Aku ingin menanyakan tiga hal yang tidak akan bisa dijawab kecuali oleh seorang Nabi. Pertama, bagaimana terjadinya hari kiamat. Kedua, makanan apa yang pertama kali dimakan penduduk surga. Dan tiga, kenapa ada anak yang mirip ayahnya dan ada pula yang mirip selainnya,” ucap Ibnu Salam.
Nabi pun menjawab. Kata Rasulullah, aku baru saja diajarkan oleh Malaikat Jibril tentang pertanyaanmu itu. Kiamat terjadi ketika api mengumpulkan orang yang di barat dan di timur. Makanan pertama yang dimakan penduduk surga adalah hati ikan. Dan ketika terjadi hubungan seksual suami istri, jika suami yang orgasme duluan, maka anaknya akan mirip ayahnya, jika istrinya duluan maka anaknya akan mirip ibunya.
Saat itu pula, Abdullah bin Salam mengucapkan kalimat syahadat. Ia juga bangga dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah: Abdullah bin Salam.
Dengan senang dan bangga, Ibnu Salam pulang ke rumah. Ia mengabarkan semua yang dialami kepada istri, anak-anak, bibinya yang masih hidup, dan orang-orang dekat di sekitarnya. Ia pun meminta untuk merahasiakan keislaman itu hingga waktu yang tepat.
Karena jika orang-orang Yahudi tahu ia sudah masuk Islam, mereka akan menjauhi, menghina, bahkan menyiksa keluarga Ibnu salam.
Suatu hari, Ibnu Salam mendatangi Nabi di rumahnya. Ia memberitahukan kepada Nabi tentang karakter umum dari orang-orang Yahudi. Mereka suka berdusta, suka merendahkan, dan lainnya.
Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk membuktikan itu. Caranya? Ia meminta Rasulullah untuk mengundang salah seorang tokoh Yahudi ke rumah Nabi. Dan ia juga meminta izin Rasul untuk menyembunyikan dirinya di dalam rumah Nabi.
Ibnu Salam pun meminta Nabi untuk menanyakan tentang dirinya kepada tokoh Yahudi itu. Seperti apa Abdullah bin Salam menurut mereka, dan hal itu akan menandakan bahwa mereka belum atau sudah tahu tentang keislaman Ibnu Salam.
Rencana itu pun dilakukan Nabi. Ada tokoh Yahudi yang diundang Nabi, dan bisa datang. Orang itu tidak tahu kalau di dalam rumah Nabi ada Ibnu Salam.
Nabi mengajak orang itu untuk menerima Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun menanyakan ke tokoh Yahudi itu tentang Ibnu Salam.
Jawaban dari tokoh itu tentang ajakan masuk Islam begitu tegas, bahwa ia dan tokoh Yahudi lainnya tak ingin menerima Islam. Tentang Ibnu Salam, tokoh Yahudi itu mengatakan, “Dia orang baik, ulama kami, ayahnya juga ulama kami, guru kami dan pendidik kami.”
“Bagaimana menurumu jika kukatakan bahwa dia sudah masuk Islam?” ucap Nabi. Tokoh Yahudi itu pun kaget.
Tak lama setelah ucapan itu, Ibnu Salam keluar dari persembunyiannya, dari dalam rumah Nabi.
“Ah, dasar pendusta. Engkau sudah mengkhianati kami!” ucap tokoh itu.
Abdullah bin Salam masih berumur panjang ketika Rasulullah wafat. Di masa Khalifah Umar, ia masih ikut dalam perang menaklukkan Persia. Ia pun mendampingi Khalifah Umar memasuki Yerusalem setelah ditaklukkan pasukan Islam.
Muaz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Ikutilah pemahaman dari empat orang: Abu Darda, Abdullah bin Mas’ud, Salman al-Farisi, dan Abdullah bin Salam.”
Sejumlah ayat Al-Qur’an juga turun berkenaan dengan sosok Abdullah bin Salam. Yaitu, Surah Al-Ahqaf ayat 10, Ali Imran ayat 113 dan 114, dan ar-Ra’du ayat 43.
Beliau wafat di tahun 45 hijriyah dalam usia 113 tahun. Meski mengalami begitu banyak fitnah di dalam Islam, Ibnu Salam tetap istiqamah.
Hal ini seperti yang pernah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Engkau akan mati dalam keadaan berpegang teguh dengan tali yang kokoh.”
**
Jika seseorang memang aslinya baik, maka ia akan terus baik bersama Islam. Apa pun latar belakang suku, agama, dan bangsanya.
Dahulukanlah berbaik sangka. Karena dengan baik sangka, seseorang diingatkan dengan nilai kebaikan yang tersembunyi dalam dirinya. [Mh]





