KESADARAN itu mahal. Di situlah kita bisa fokus, tenang, dan bisa memberikan reaksi yang pas.
Ada seorang anak muda yang rutinitasnya begitu ketat. Pagi berangkat kerja, naik kendaraan umum, berjalan melalui trotoar, masuk gedung, dan kerja di ruangan.
Begitu pun ketika pulang: keluar ruangan dan gedung, melalui trotoar jalan, naik kendaraan umum, turun dan tiba di rumah.
Suasana itu membuatnya teramat bosan. Pekerjaan yang biasa saja menjadi terasa begitu berat. Guliran waktu hidup seperti antrian panjang menuju kematian yang kian dekat.
Suatu kali, dalam perjalanan pulang, ia menyempatkan diri mampir di sebuah warung. Entah kenapa ia ingin sekali minum teh hangat untuk mengimbangi suasana sore yang gerimis.
Ada orang tua di sampingnya yang juga sedang minum teh hangat. Tiba-tiba orang itu bilang, “Apa kamu tahu ada berapa lampu merah yang kau lewati?”
Anak muda itu agak kaget dengan suara tiba-tiba itu. Ia menoleh dan bingung mau jawab apa. “Saya nggak perhatikan!” jawabnya singkat.
Tentu saja ia tidak perhatikan meskipun jalan yang sama ia lalui entah sudah berapa ratus kali. Hal ini karena ia begitu sibuk memperhatikan hapenya. Di jalan, lihat hape, di bus juga begitu, apalagi di rumah. Hanya di tempat kerja yang membuatnya sementara tak melihat hape.
“Coba kamu perhatikan besok. Sekali saja,” ucap orang tua itu sambil tersenyum dan pergi.
Awalnya, si anak muda merasa kalau ucapan itu hanya basa-basi saja. Tak ada perlunya untuk diperhatikan.
Namun keesokan paginya, ia mulai penasaran. Kenapa aku perlu tahu berapa jumlah lampu merah yang aku lewati. Ia pun penasaran.
Ketika di dalam bus, pandangannya tak lagi ke hape. Ia mulai melihat melalui jendela bus. Ada suasana lalu lintas yang macet, pengendara motor yang kepanasan atau kehujanan, pejalan kaki yang kelihatan acuh satu sama lain.
Ah, ada suasana lain dalam dirinya yang mulai ia rasakan. Ia pun bekerja agak lebih rileks, tidak tegang seperti biasanya.
Sepulangnya dari tempat kerja, anak muda itu kembali lagi ke warung untuk minum teh hangat. Ia penasaran dengan sosok orang tua yang memintanya menghitung lampu merah.
Benar saja. Ia bertemu lagi. Orang tua itu tersenyum ramah. Tapi, belum lagi si anak muda bicara lebih banyak, orang tua itu bilang: coba kamu perhatikan tindakan baik di sepanjang jalan yang kamu lewati. Setelah itu, orang tua itu pun pergi.
Apa maksudnya? Rasa penasaran itu menjadikan si anak muda kian penasaran.
Esoknya, ketika ia berangkat kerja, perhatiannya pada suasana yang ia lewati tidak sekadar menghitung. Tapi, memperhatikan dan menyimak.
Sebelum naik bus, ia melihat beberapa orang yang mempersilakan ibu-ibu naik lebih dahulu. Begitu pun ketika di dalam bus, beberapa orang yang duduk mengalah untuk memberikan tempat duduk buat ibu-ibu.
Di jalan yang dilalui, ia pun memperhatikan seekor induk kucing yang menjaga dua anaknya yang masih kecil. Dan lainnya.
Ia baru menyadari, selama ini kesadarannya hilang. Perhatiannya yang berlebihan pada hape menjadikannya seperti robot yang nihil kesadaran.
Tak terasa, ketika tiba di tempat kerja, ia mulai memperhatikan siapa bos dan rekan-rekan kerjanya. Ia pun mulai bisa tersenyum dan bicara santai dengan mereka.
“Kesadaran itu memang mahal!” ucapnya sambil mematikan hape yang terus menggodanya untuk disimak dan diperhatikan.
**
Jangan heran jika di zaman ini orang menjadi abai satu sama lain. Yang muda tak respek dengan yang tua, dan yang tua benci dengan yang muda. Apa pun hubungan mereka.
Jangan heran pula jika di satu ruangan yang sama, satu keluarga: suami, istri, ayah ibu, dan anak-anak, bisa abai satu sama lain. Hanya fisiknya saja yang berkumpul, tapi jiwa dan pikirannya ‘terbang’ kemana-mana.
Kesadaran mereka tersedot oleh mesin kecil di genggaman mereka: hape.
Cobalah simak dan perhatikan sekeliling kita: bagaimana keadaan mereka, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang bisa kita berikan. Saat itulah, kita akan menemukan hati dan kesadaran kita.
Sayangnya, hal itu tidak akan mungkin jika hape masih terus melekat di tangan dan pikiran kita. [Mh]



