MENCINTAI tak cukup dengan kata. Perlu bukti dalam perbuatan yang nyata.
Ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu unik mengungkapkan cintanya dengan Nabi dan Al-Qur’an. Ia adalah Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu.
Dalam segala hal, Usaid selalu mendampingi Rasulullah untuk siap menerima perintah. Termasuk dalam peperangan. Beliaulah yang selalu di samping Rasulullah dalam Perang Uhud, meskipun ada tujuh luka di sekujur tubuhnya.
Suatu kali dalam suasana santai, Usaid mencandai Rasulullah dan para sahabat di sekitarnya. Semuanya tertawa termasuk Rasulullah. Rasulullah secara refleks mencolok pinggang Usaid dengan kayu.
Di luar dugaan yang lain, tiba-tiba Usaid meminta qishash atau membalas colokan kayu dengan colokan yang sama terhadap Rasulullah.
Suasana menjadi agak tegang. Tapi, Rasulullah mempersilakan Usaid mencolok pinggangnya dengan kayu yang sama.
Tapi, Usaid menolak. Ia mengatakan, “Saat Anda mencolok pinggangku, aku tidak mengenakan baju. Jadi, Anda pun akan aku colok dengan tanpa mengenakan baju.”
Rasulullah melepas bajunya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam siap untuk diperlakukan qishash oleh Usaid.
Apa yang terjadi berikutnya? Usaid sama sekali tak mencolok tubuh Rasulullah dengan kayu. Ia langsung memeluk tubuh mulia itu.
“Inilah yang sebenarnya aku inginkan, Wahai Rasulullah!” ucapnya sambil memeluk dan menciumi tubuh Rasulullah.
Di kesempatan yang berbeda, Usaid sedang berada di belakang rumahnya bersama anaknya. Malam itu begitu cerah. Keduanya duduk tak jauh dari kudanya yang ia tambat.
Usaid pun membaca Al-Qur’an. Surah yang ia baca saat itu, adalah Surah Al-Baqarah.
Sudah dikenal luas oleh para sahabat Nabi bahwa suara bacaan Qur’an Usaid begitu merdu. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memujinya dengan mengatatakan, indahnya suara tilawah Usaid seperti keindahan suara seruling keluarga Nabi Daud. Begitu sangat merdu.
Ketika Usaid membaca Al-Quran, tiba-tiba kuda yang ia tambatkan berdiri dan bergerak gelisah. Ketika Usaid menghentikan bacaannya, kuda itu pun tenang. Dan ketika ia meneruskan bacaan Al-Qur’annya, kuda itu kembali bergerak mengelilinginya.
Usaid merasa bingung. Ia pun kembali menghentikan bacaannya. Kudanya pun kembali tenang. Ketika ia mendongak ke arah langit, ia menyaksikan awan bergerak menjauh menyerupai payung. Di sekeliling awan itu terlihat kilatan cahaya.
Pagi harinya, Usaid menceritakan hal itu kepada Rasulullah. Rasulullah menjelaskan bahwa malaikat turun ingin mendengarkan bacaaan Al-Qur’an Usaid. Sekiranya Usaid meneruskan bacaannya, niscaya seluruh orang akan melihat apa yang Usaid saksikan di langit.
**
Di antara anugerah terindah yang Allah berikan kepada seseorang adalah rasa cintanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan interaksinya dengan Al-Qur’an.
Kelak, Nabi akan memberikan syafaat kepadanya, begitu pun dengan Al-Qur’an. Kalau sudah seperti itu, dunia dan segala isinya menjadi tak bernilai.
Bersyukurlah ketika hati kita mampu mencintai Nabi meskipun tak pernah kita temui. Dan berbahagialah ketika Al-Qur’an menjadi begitu dekat, seperti pengawal agar kita bisa tetap selamat. [Mh]





