MEMAAFKAN itu tak semudah yang dibincangkan. Maafkanlah meskipun terasa berat.
Ada satu sanak kerabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu: sepupu, yang miskin. Ia masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah. Namanya, Misthah bin Utsatsah.
Sebagai bentuk kepeduliannya, Abu Bakar membiayai hidup Misthah dan keluarga. Dengan begitu, penghidupan sepupunya itu bisa lebih baik.
Namun, ada yang tidak berkenan dari Abu Bakar terhadap Misthah. Dan hal itu dianggapnya sangat keterlaluan.
Ketika tersebar fitnah tentang Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha yang juga putri Abu Bakar, Misthah ikut menyebarkan. Dan akhirnya, sifat buruk Misthah itu diketahui Abu Bakar.
Perlu diketahui, fitnah terhadap Sayyidah Aisyah berlangsung lebih dari satu bulan. Beliau difitnah telah melakukan selingkuh dengan seorang pemuda yang secara kebetulan mengantarnya pulang ke Madinah setelah tertinggal dari rombongan jihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Betapa marahnya Abu Bakar. Ia pun bersumpah tidak akan memberikan bantuan lagi kepada Misthah.
Namun, ucapan sumpah Abu Bakar itu ditegur oleh Allah subhanahu wata’ala. Tak lama, turunlah firman Allah subhanahu wata’ala Surah An-Nur ayat 22.
“Dan janganlah orang-orang yang mempunya kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabatnya: orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Mendengar turunnya firman Allah itu, Abu Bakar langsung mengatakan, “Aku sangat suka Allah mengampuniku.” Abu Bakar pun memohon ampun atas kekeliruannya itu.
Sejak itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq berjanji tidak akan pernah mencabut bantuannya kepada Misthah, apa pun yang terjadi.
**
Jangan salah paham tentang bantuan atau sedekah yang kita berikan kepada seseorang, rutin atau tidak. Bukan kita yang sebenarnya menguntungkan mereka. Merekalah yang mendatangkan sarana agar Allah bisa terus mengampuni kita melalui sedekah.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah pernah mengajarkan bahwa pengemis yang kita berikan sedekah sebenarnya telah berjasa dengan mendatangkan peluang ampunan Allah untuk kita. Hanya melalui sedikit dari rezeki yang kita sisihkan.
Maafkanlah apa pun kekurangan mereka. Karena fakir miskin itu telah begitu berjasa untuk kita. [Mh]


