MASA depan ada di tangan Islam. Masalahnya, kita hidup di zaman yang menjauh dari Islam.
Dalam sejarah Islam, ada sejumlah masa di mana Islam mencapai keemasan. Dunia menjadi sejahtera dan beradab.
Masa-masa itu antara lain: Kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di mana Islam telah menguasai hampir separuh bumi. Kemudian, masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz di mana rakyat hidup begitu sejahtera hingga bingung mau membayar zakat ke siapa.
Namun, ada masa puncak keemasan Islam, yaitu apa yang disebut abad pertengahan. Saat itu, kekhalifahan dipimpin oleh Harun Al-Rasyid kemudian diteruskan oleh keturunannya.
Peristiwa ini terjadi di abad kedelapan dan sembilan. Salah satu bukti monumentalnya adalah Bagdad menjadi pusat peradaban dunia saat itu. Dan karya terbesar para khalifah saat itu adalah Baitul Hikmah. Yaitu, pusat perpustakaan dunia.
Baitul Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Kemudian mencapai masa keemasannya oleh penerus khalifah yaitu Khalifah Al-Ma’mun dan diteruskan oleh Khalifah Al-Mu’tasim dan Al-Watsiq. Semuanya berasal dari Dinasti Abbasiyah.
Baitul Hikmah bukan sekadar perpustakaan dunia. Selain buku-buku rujukan lokal dan asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, para pakar bertumbuhan di masa itu. Mereka diberikan rangsangan yang luar biasa dari khalifah. Antara lain, sebuah buku akan ditimbang dan disetarakan dengan emas sebagai imbal balik untuk ahlul ilmi ini.
Buku-buku yang menjadi rujukan bukan sekadar pengetahuan Islam. Tapi juga buku-buku umum seperti matematika, fisika, kimia, kedokteran, teknik, humaniora, hingga astronomi.
Di antara mereka adalah sosok yang bernama Ibnu Sina sebagai peletak dasar-dasar kedokteran moderen dan Muhammad bin Musa atau biasa disebut Al-Khawarizmi. Keilmuan dua tokoh itu hingga sekarang masih menjadi rujukan.
Antara lain, orang sekarang biasa menyebut algoritma. Padahal, kata itu merujuk pada Al-Khawarizmi, yaitu seorang pakar matematika.
Baitul Hikmah terintegrasi dengan pusat pemerintahan. Gedungnya dibangun dalam bentuk lingkaran dengan diameter sekitar 5 kilometer. Titik pusat gedung ini adalah bangunan masjid.
Karena di masa itu, sejak abad ketujuh, Islam juga masuk ke Eropa melalui Spanyol, maka perkembangan ilmu itu juga menyebar ke Eropa melalui ahlul ilmu muslim yang tinggal di Andalusia.
Islam berkuasa di Andalusia Spanyol sejak abad ketujuh hingga abad ke lima belas, atau kurang lebih berkuasa selama delapan abad. Saat itu, tanpa Islam, Eropa hidup dalam dunia kegelapan dan primitif.
Sayangnya, masa keemasan ini tak berjalan seterusnya. Pada tahun 1258, ketika Abbasiyah mengalami kelemahan, bangsa Mongol melalui Hulagu Khan menghancurkan Bagdad. Termasuk juga Baitul Hikmahnya.
Sekiranya peristiwa itu tak terjadi, mungkin pesawat, mobil, ponsel, dan produk teknologi canggih saat ini sudah ditemukan ratusan tahun yang lalu.
**
Jangan hanya melihat Islam di zaman saat ini. Karena saat ini hanya sebagian dari titik balik naik turunnya peradaban Islam yang terakhir jatuh di masa Kekhalifahan Usmani di Turki. Kekuasaan itu jatuh pada tahun 1924.
Meski usia kita terbatas, cobalah rentangkan visi dan wawasan kita berlipat-lipat dari usia yang Allah jatahkan. Hal ini agar kita tidak salah paham dengan Islam dan tidak mudah putus asa dengan keadaan yang ada.
Tanamkanlah dalam hati dan tekad kita: masa depan ada di tangan Islam. Yang akan kembali ditegakkan oleh kita, atau anak cucu kita. [Mh]




