ILMU dan hati tak bisa dipisahkan. Ketinggian ilmu seseorang dilihat dari kerendahan hatinya.
Tak seorang pun yang meragukan keilmuan Imam Malik rahimahullah. Salah seorang muridnya bernama Imam Syafi’i rahimahullah, seorang ulama besar yang ilmunya luar biasa.
Di usia 21 tahun, Imam Malik sudah diperbolehkan oleh para ulama untuk memberikan fatwa agama. Hal ini karena keilmuannya yang luar biasa. Dan jumlah ulama yang memperbolehkannya sebanyak 70 orang.
Suatu kali, ada seorang tamu dari jauh yang datang untuk menyampaikan sejumlah pertanyaan. Jumlahnya 40 pertanyaan.
Imam Malik pun menjawab 4 dari jumlah itu. Jadi, masih ada 36 pertanyaan yang tidak bisa dijawab Imam Malik.
“Laa uhsinuha,” jawab Imam Malik. (Aku tidak bisa menjawabnya dengan baik).
Tamu itu mengatakan kepada Imam Malik, “Aku datang dari jauh. Apa yang akan aku sampaikan ke orang-orang di sana jika tak ada jawaban dari Anda?”
Imam Malik pun mengatakan, “Sampaikan ke orang-orang di sana bahwa Imam Malik tak bisa menjawabnya dengan baik.”
**
Berani jujur itu baik. Dalam hal ilmu, jawaban itu bukan hanya baik, melainkan juga menunjukkan kerendahan hati.
Imam Malik pernah memberikan nasihat: ilmu itu bukan banyaknya riwayat. Ilmu itu cahaya yang Allah terangi dalam hati seseorang.
Dalam versi kita: ilmu itu bukan sekadar banyaknya hafalan dalil, melainkan kekuatan akhlak yang menunjukkan kerendahan hati seseorang. [Mh]



