NABI shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan: siapa yang beriman kepada Allah dan Rasulnya hendaklah ia memuliakan tetangganya.
Sebuah kisah miris viral di media sosial ‘TikTok’. Anak perempuan usia sekitar 13 tahun harus bekerja 12 jam sehari sebagai buruh kasar untuk menghidupi dua adiknya yang masih kecil. Ia harus tiba jam 9 pagi dan pulang jam 9 malam.
Nama anak itu Mutia, berkerudung, dan masih terdaftar di sebuah SMP. Ayahnya masuk penjara karena kasus penyalahgunaan narkoba. Ibunya masuk rumah sakit jiwa.
Di rumah yang sederhana di Kepulauan Riau, Mutia kini hanya tinggal bersama dua adiknya yang masih kecil. Rasa tanggung jawabnya sebagai kakak memaksanya untuk mencari nafkah demi menghidupi dua adiknya.
Dari hasil kerja itu, per hari Mutia mendapatkan penghasilan 25 hingga 30 ribu rupiah. Sayangnya, sebagian besar uang itu habis untuk ongkos pergi dan pulang. Sisanya ia belikan makan buat adik-adiknya.
Kisah memprihatinkan ini terbongkar setelah seorang driver ojol wanita yang mengantarkan Mutia merasa ada yang aneh. Ojol ini pun bertanya dengan siapa Mutia tinggal, dan kemana ayah ibunya.
“Kamu sudah makan?” tanya driver ojol.
Dengan malu sambil memberikan senyuman, Mutia menjawab polos, “Belum.”
Tak lama, seorang anak kecil pun membukakan pintu rumah untuk Mutia. Mungkin, seperti itulah rutinitas sehari-hari tiga anak yang butuh bantuan ini.
Dari tayangan yang diunggah di media sosial itu, respon netizen pun datang. Mereka begitu prihatin. Ada yang memberikan uang. Ada pula yang mengurus Mutia dan dua adiknya itu untuk diasuh secara layak di sebuah lembaga rehabilitasi sosial.
Kini, Mutia dan dua adiknya tinggal di sebuah lembaga rehabilitasi sosial. Penyelamatan yang sangat penting itu karena sebuah kepedulian dari seorang driver ojol wanita.
**
Meskipun dikelola oleh para pejabat tinggi yang bobrok, negeri ini tidak pernah ‘kering’ dari sosok-sosok baik yang siap saling bantu. Mereka memang tak saling kenal, tapi pancaran cinta sesama umat Islam tak pernah berkurang.
Teruslah asah ketajaman kepedulian kita. Kita mungkin saja sedang dalam keadaan susah. Tapi, ada yang jauh lebih susah dan butuh pertolongan.
Yakinlah bahwa Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama sang hamba selalu menolong saudaranya. [Mh]





