SAMPAH itu ada di mana saja. Termasuk di dalam jiwa kita.
Seorang pendaki pemula menarik perhatian banyak pendaki lain. Badannya besar, tapi ia tampak begitu kelelahan. Ia juga sebagai peserta yang tiba paling belakangan.
“Kamu tahu kesalahan fatalmu?” tanya sang senior.
“Apa karena tas besar saya ini?” ucapnya, menyadari tentang tasnya yang begitu besar.
“Bukan tasnya. Tapi isinya,” jelas sang senior.
Pendaki senior itu pun menjelaskan bahwa yang ada dalam tas itu bukan yang kita inginkan. Tapi hanya yang diperlukan saja. Karena semua orang tak akan bisa menahan apa yang diinginkan. Meskipun sebenarnya tidak ia perlukan.
Kedua, inilah yang lebih buruk dari yang sebelumnya. Yaitu, pendaki pemula kerap membawa apa saja yang ia suka saat dalam perjalanan. Misalnya, batu-batu alam, tumbuhan langka, bahkan hewan liar yang bisa ia tangkap.
Kenapa ini dianggap buruk? Karena misi utama perjalanan bukan sedang mengumpulkan yang kita suka. Tapi perjalanan berat menuju tujuan di puncak sana.
**
Begitu pun dalam kehidupan nyata kita. Hidup ini adalah perjalanan mendaki, terus menanjak meskipun tak terasa. Yang hanya terasa hanya lelah dan menyerah.
Karena itu, jangan sibukkan diri dengan begitu banyak hal yang kita inginkan. Karena keinginan tak mengenal kata cukup.
Selain itu, jangan membawa-bawa ‘sampah’ di dalam beban jiwa kita. Sampah-sampah itu antara lain rasa kecewa, dendam, sedih, marah, prasangka, iri dan dengki, dan hal buruk lainnya.
Semua itu sampah yang harus dibuang dalam jiwa kita. Bukan sebaliknya: dikoleksi sehingga terus menjadi beban tak berkesudahan.
Fokuslah dengan tujuan utama misi hidup ini. Bawa yang kita butuhkan saja, bukan semua yang diinginkan. Dan, bersihkan semua sampah dalam jiwa kita. [Mh]


