ISTIQAMAH tak boleh ada jedanya. Ia harus terus begitu sampai datang mati.
Ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu istiqamah. Ia tetap menjadi mujahid meski di usia 80 tahun. Dan, Allah menganugerahkan syahid di usia lansia.
Sahabat Nabi yang istimewa itu bernama Khalid bin Zaid, atau biasa disebut Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Rumahnya pernah menjadi tempat tinggal sementara Rasulullah ketika bulan-bulan awal tiba di Madinah, hingga Masjid Nabawi dan hunian Nabi jadi.
Sekitar 7 bulan Rasulullah menetap di rumah sahabat yang berasal dari suku Khazraj ini. Rumahnya dua lantai.
Awalnya Nabi tidur di lantai bawah, sementara Abu Ayyub dan istrinya di lantai dua. Namun, karena malu ‘menghalagi’ turunnya wahyu dari langit, Abu Ayyub mempersilakan Nabi tidur di lantai dua sementara ia dan istrinya di lantai bawah.
Semua peperangan di masa Nabi, selalu diikuti Abu Ayyub. Mulai dari Perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, dan seterusnya. Bahkan ketika Nabi wafat, Abu Ayyub masih terus ikut peperangan bersama para Khulafaur Rasyidin.
Ketika kasus fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha merebak di Madinah, istri Abu Ayyub menanyakan kasus itu ke suaminya.
“Menurutmu, bagaimana kebenaran kasus itu?” tanya istri Abu Ayyub.
Abu Ayyub menjawab, “Bagaimana kalau tuduhan itu terjadi padamu. Apa mungkin kamu melakukan keburukan itu?”
Istri Abu Ayyub langsung menjawab, “Hiii, tidak mungkin aku melakukan itu.”
Abu Ayyub langsung menegaskan, “Kalau kamu saja merasa tidak mungkin, apalagi Bunda Aisyah. Ia jauh lebih baik dari kamu!”
Di masa Khalifah Muawiyah, Abu Ayyub ikut dalam perang melawan Bizantium di Turki saat ini. Padahal, usianya sudah tak lagi muda. Ia sudah lansia, sudah 80 tahun.
Di sela-sela peperangan, Abu Ayyub sakit. Ia beristirahat di sebuah tenda. Ada seorang petinggi khalifah yang datang menjenguknya.
Orang itu mengatakan, “Wahai Abu Ayyub, apakah ada wasiat yang ingin kau sampaikan jika kau syahid nanti?”
Abu Ayyub mengatakan, “Naikkan aku ke kudaku. Perintahkan kudaku berlari ke arah musuh sejauh yang bisa ia lakukan. Dan makamkan aku di sana!”
Benar saja. Abu Ayyub syahid di atas kudanya di wilayah Bizantium. Ia pun dimakamkan di sana. Abu Ayyub wafat di tahun 674 masehi, di usia 80 tahun.
Sayangnya, pasukan Islam saat itu gagal mengalahkan Bizantium. Benteng kotanya begitu kokoh. Selain itu, udara dingin saat itu tergolong ekstrim.
Jauh setelah peristiwa itu berlalu, atau sekitar 7 abad kemudian. Ada seorang panglima perang muda yang akhirnya bisa menaklukkan benteng dan kota Bizantium di Istanbul Turki saat ini. Ia bernama Muhammad Al-Fatih.
Sosok bersejarah Abu Ayyub Al-Anshari yang dimakamkan di tanah Istanbul sudah begitu terkenal di masa itu. Akhirnya, sesuai dengan wasiat Abu Ayyub 7 abad yang lalu, Al-Fatih memindahkan makam Abu Ayyub di sebelah benteng Bizantium yang sudah ditaklukkan.
Di sebelahnya dibangun sebuah masjid. Masjid itu diberi nama Masjid Ayyub Sultan untuk mengenang jasa beliau yang luar biasa itu.
**
Perjalanan hidup ini mungkin terasa begitu lama untuk yang beramal biasa saja. Tapi tidak begitu untuk mereka yang tak pernah pensiun sebagai sosok mujahid Islam. Hidup menjadi terasa begitu singkat.
Teruslah dalam jalan dakwah Islam. Seperti apa pun keadaannya. Tekadkan akan terus seperti itu hingga ajal datang. [Mh]





