PEMIMPIN itu juga manusia. Bisa benar, bisa juga salah. Tegurlah dengan cara yang baik.
Di masa Khalifah Harun Al-Rasyid, Pemimpin di masa keemasan Dinasti Abbasiyah, ada seorang yang meminta untuk bisa bertemu khalifah.
Setelah mendapatkan kesempatan bertemu, ia mengatakan kepada Khalifah bahwa akan memberikan teguran keras.
“Wahai Amirul Mukminin, saya akan menyampaikan teguran keras dengan cara yang lantang kepada Anda. Mohon agar Anda nantinya tidak memasukkan teguran keras saya kedalam hati,” ucapnya.
Harun Al-Rasyid terkejut dan tersinggung dengan cara penyampaian orang itu. Khalifah menilai bahwa orang ini tidak memahami agama secara benar.
“Diam engkau! Mengapa engkau datang dengan kemarahan dan tanpa adab?” ucap Khalifah.
“Ketahuilah!” lanjut Khalifah Harun Al-Rasyid, “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengutus seorang yang jauh lebih baik darimu, yaitu Nabi Musa alaihissalam kepada orang yang lebih buruk dariku, yaitu Firaun untuk menyampaikannya dengan lemah lembut.” (QS. Thaha: 43-44)
Dalam ayat itu, Allah berfirman, ‘Pergilah kalian berdua, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.’
**
Seorang pemimpin, siapa pun dia, memiliki nurani kemanusiaan yang bisa tersentuh dengan ucapan yang baik. Yaitu, ucapan yang lembut, tidak memusuhi, dan berbaik sangka.
Karena inti dari nasihat dan teguran adalah bukan sekadar sampainya pesan kepada yang dituju, tapi juga bisa diterima dengan baik.
Teguran yang bijak boleh jadi akan membuka sekat subjektif seorang pemimpin bahwa ternyata ada ide yang lebih baik dari apa yang ia pikirkan, dan ada hal buruk yang tidak ia sadari.
Meskipun, umumnya itu membutuhkan waktu. [Mh]


