SEORANG mukmin menyikapi setiap takdir dirinya dengan: qadarullah. Semua sudah ditakdirkan Allah. Apa yang Allah kehendaki, maka terjadilah.
Di sebuah negeri, ada seorang petani tua yang tinggal sendiri. Hanya satu anak lelakinya yang masih hidup. Sayangnya, anak itu masih kuliah di kota.
Para tetangga petani tua mengatakan, “Kasihan sekali Pak Tua, punya anak satu-satunya tinggal di kota! Andai dia tinggal di sini.”
Tapi dengan santai petani tua itu berujar, “Berbaik sangkalah dengan takdir!”
Akhirnya, putera petani tua itu pulang. Sebenarnya, ia ingin kuliah lagi. Tapi ia ingin istirahat sejenak sambil menemani ayahnya yang tinggal sendirian.
Putera petani tua itu begitu tertarik dengan kuda. Memang, ada dua kuda yang dirawat petani tua untuk mengangkut hasil panen dan membajak lahan. Tanpa kuda-kuda itu, rasanya sulit buat petani tua untuk mengurus lahannya yang luas.
Karena ceroboh, putera petani tua itu lupa menutup pintu kandang kuda seusai membersihkan merawat kuda-kuda. Pada malamnya, kuda-kuda itu kabur.
Para tetangga kembali datang ke rumah petani tua. Mereka mengatakan, “Aduh malangnya, andai anak bapak tidak lupa menutup kandang!”
Petani tua hanya tersenyum. Ia mengatakan, “Berbaik sangkalah dengan takdir!”
Merasa bersalah, putera petani tua berusaha mencari kuda-kuda ayahnya. Tanpa kuda-kuda itu, rasa berat sekali mengurus lahan yang luas.
Setelah mencari-cari, dua kuda itu pun ia temukan di tepian hutan. Menariknya, ada dua kuda liar yang ternyata ikut bersama kuda mereka yang lepas. Dua kuda liar itu pun ikut bersama dua kuda yang ditemukan itu.
Hari-hari selanjutnya menjadi momen penuh antusias untuk putera petani tua. Ia begitu senang mendapatkan dua kuda sehat dan bagus. Ia pun melatih dua kuda itu agar bisa lebih jinak seperti kuda-kuda yang lain.
Karena kurang hati-hati, putera petani itu terlempar dari kuda. Ia tak bisa bangun. Setelah diperiksa petani tua, ternyata puteranya mengalami retak tulang pergelangan kaki. Harus dirawat lama.
Para tetangga pun menjenguk putera petani tua. Mereka begitu prihatin dengan anak satu-satunya petani tua yang tak bisa berjalan. Mereka pun mengatakan, “Aduh malangnya anak itu. Andai putera bapak tidak bermain-main dengan kuda liar!”
Dengan tenang petani tua itu mengatakan, “Berbaik sangkalah dengan takdir!”
Hari demi hari berlalu. Tapi, putera petani tua masih belum sembuh. Ia masih bisa berjalan karena lukanya.
Tiba-tiba ada kebijakan pemerintah tentang wajib militer. Semua pria muda yang kuat dan sehat harus menjadi prajurit untuk ikut berperang. Tapi biasanya, sedikit dari mereka yang ikut wajib militer bisa kembali ke rumah.
Para tetangga di kampung petani tua yang punya anak lelaki kuat dan sehat dipaksa ikut wajib militer. Ayah ibu mereka tak bisa berbuat banyak. Para ibu mereka pun hanya bisa menangis.
Hanya putera petani tua yang tidak diwajibkan ikut. Karena, anak itu dianggap cacat dan tak bisa ikut berperang.
Akhirnya, para tetangga mendatangi rumah petani tua. Mereka mengatakan, “Engkau benar, Pak. Kita harus berbaik sangka dengan takdir!”
Petani tua itu pun kembali memantapkan keyakinan para tetangganya, “Iya. Kita harus berbaik sangka dengan takdir. Semoga anak-anak kalian mendapatkan nasib yang terbaik.”
**
Begitu banyak peristiwa yang kita alami dalam hidup ini. Ada yang baik dan ada yang buruk. Tapi berbaik sangkalah dengan apa yang kita alami.
Boleh jadi, apa yang menurut kita baik adalah buruk di sisi Allah. Begitu sebaliknya, apa yang menurut kita buruk adalah yang baik di sisi Allah.
Berbaik sangkalah, karena Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. [Mh]