BERANI jujur ketika salah menunjukkan tingginya jatidiri seseorang. Meskipun sebenarnya, ia mampu membuat-buat alasan.
Ada tiga sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tercantum dalam Al-Qur’an tentang pertaubatannya. Mereka berani jujur kepada Rasulullah, kenapa tidak ikut Perang Tabuk.
“Kami lalai, Ya Rasulullah!” seperti itu pengakuan mereka kepada Rasulullah usai beliau dan pasukan tiba kembali di Madinah.
Rasulullah menangguhkan maafnya kepada mereka bertiga, hingga Allah subhanahu wata’ala memberikan jawaban dalam Al-Qur’an.
Setelah 50 hari ketiganya menjalani isolasi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan…, kemudian Allah menerima tobat mereka, agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)
Ketiga sahabat Rasulullah yang mulia itu adalah Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhum.
Dari tiga orang itu, Ka’ab bin Malik merupakan yang paling jelas mengisahkan tentang dirinya. Hal itu karena sahabat Anshar kelahiran sekitar tahun 600 masehi ini seorang penyair hebat. Dengan syairnya, banyak orang Arab pedalaman yang masuk Islam.
Begitu pun ketika dirinya mengalami isolasi selama 50 hari itu. Beliau menuliskan tentang kisah itu sehingga banyak orang yang ikut menyelami keadaan dirinya saat dalam ‘hukuman’ yang dirasa berat itu. Meskipun tidak dalam hukuman fisik.
Ka’ab bin Malik melihat begitu banyak orang Madinah yang antre untuk memberikan alasan-alasan kenapa mereka tidak ikut Perang Tabuk. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima maaf mereka.
Tapi ketika gilirannya tiba, ia tak sanggup menatap wajah Rasulullah. Jangankan berkata-kata, melihat wajah Rasul saja tak mampu. Ia begitu merasa bersalah.
Begitu pun saat mengalami isolasi dari para sahabat, termasuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tak ada sahabat Rasul yang mau berbicara padanya, bahkan untuk saling menatap pun.
Suatu kali di saat shalat berjamaah bersama Rasulullah, Ka’ab begitu menanti-nanti bisa melihat wajah Rasulullah saat menoleh dalam salamnya. Ia menunggu saat-saat itu, karena posisi shalatnya persis di dekat sebelah Rasul.
Namun, ketika Rasulullah menoleh ke arahnya, cepat-cepat wajah itu dibalikkan ke arah yang lain. Mendapati itu, Ka’ab bin Malik tak kuat menahan diri. Ia pulang dan menangis sejadinya. Hari-hari berikutnya, ia hanya tinggal di rumah: memperbanyak istigfar dan taubat kepada Allah.
Dan, hari yang dinanti-nanti itu tiba. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memeluknya. Beliau membacakan firman Allah itu.
Ka’ab bin Malik merupakan sahabat Anshar yang senior. Ia selalu ikut dalam perang yang dipimpin Rasulullah. Termasuk Perang Uhud.
Bahkan saat kritis di Perang Uhud itu, Ka’ab yang pertama kali menemukan tubuh Rasulullah yang berada di sebuah tempat tak terlihat. “Rasulullah masih hidup!” seperti itu kira-kira teriakannya.
Teriakan itu didengar Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan lainnya yang sontak membawa tubuh Rasulullah ke tempat yang lebih aman.
Ka’ab bin Malik wafat jauh setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Ia wafat di tahun 661 masehi di usia 61 tahun. Tepat di awal Kekhalifahan Umayyah.
**
Di saat alasan bisa menyelamatkan reputasi, karir, dan citra baik seseorang; berani berkata jujur tentang kesalahan diri sendiri itu sangat hebat.
Sekali orang bicara dusta, maka ia akan menutupi dusta itu dengan dusta-dusta lainnya. Dan Allah akan menjadikan orang itu berkarakter pendusta.
Selalulah berkata jujur. Meskipun akan mengancam citra diri. Karena jujur itu akan selalu memberikan hikmah yang baik. [Mh]


