ISTRI tidak sekadar pendamping suami dan ibu anak-anak. Tapi, ia juga sebagai pendidik anak-anak yang utama.
Di antara orang-orang terbaik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabiyah yang begitu istimewa. Ia bernama Asma binti Umays radhiyallahu ‘anha.
Ia tergolong sahabiyah yang senior. Asma termasuk generasi yang dibina Nabi di Baitul Arqam, sebuah tempat yang begitu bersejarah di awal kenabian.
Asma berjodoh dengan Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ja’far merupakan sepupu Nabi dan juga kakak dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Usianya dengan Nabi terpaut sekitar 19 tahun, lebih tua Nabi dari Ja’far. Dengan adiknya, Ali bin Abu Thalib, usia Ja’far lebih tua 11 tahun.
Tak lama menikah dengan Ja’far, Asma mengikuti suaminya hijrah ke Habasyah atau Etiopia di Afrika. Sekitar sepuluh tahun ia dan suaminya tinggal di Habasyah. Asma dan suaminya baru bertemu lagi dengan Rasulullah setelah Nabi 7 tahun hijrah ke Madinah.
Namun, sekitar satu tahun ia dan suaminya tinggal di Madinah, Asma akhirnya berpisah dengan suaminya untuk selamanya. Ja’far syahid dalam Perang Mu’tah, perang antara pasukan Islam dengan Romawi.
Dari pernikahan dengan Ja’far, Allah mengaruniai Asma tiga orang putra: Abdullah, Muhammad, dan Aun. Tidak heran jika panggilan untuk Asma saat itu adalah Ummu Abdullah.
Sekitar satu tahun sesudah itu, istri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang bernama Ummu Rumman meninggal dunia. Ummu Rumman adalah ibu kandung dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Abu Bakar Ash-Shiddiq melamar Asma. Dan lamaran itu diterima Asma. Keduanya pun menikah.
Dari pernikahan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini, Allah mengaruniainya seorang putra. Namanya Muhammad bin Abu Bakar.
Asma merupakan istri dan ibu yang begitu piawai menemani suaminya dalam mengurus umat. Karena saat itu, Abu Bakar sudah menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah.
Pernikahan ini berlangsung sekitar 3 tahun. Hal ini karena Abu Bakar meninggal dunia.
Ada yang menarik dari wasiat Abu Bakar sebelum meninggal dunia kepada istrinya: Asma binti Umays. Ia meminta agar istrinya yang memandikan jenazahnya.
Dan yang kedua, di hari menjelang ajalnya, Abu Bakar menyarankan agar Asma berbuka puasa agar lebih segar. Mungkin karena firasat Abu Bakar kalau ia akan wafat hari itu dan istrinya akan sangat capek memandikan dan mengurus jenazahnya.
Sesuai dengan wasiat suaminya, Asma memandikan jenazah suaminya. Tapi, ia lupa dengan wasiat yang kedua, yaitu berbuka puasa sunnah.
Setelah tugas memandikan dan mengurus jenazah selesai, ia baru ingat dengan wasiat yang kedua itu. Ya, berbuka puasa sunnah agar lebih segar.
Saat itu, ia agak ragu. Hal ini karena waktu Magrib tidak berapa lama lagi. Tapi, karena ingin menunaikan janji wasiat dengan suaminya, Asma berbuka puasa.
Kenangan bersama Khalifah Abu Bakar begitu terserap baik oleh Asma. Segala problematika keumatan juga ia pahami dengan baik. Mungkin, ia juga aktif memberikan masukan kepada suaminya.
Beberapa tahun setelah wafatnya Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib yang juga adik iparnya datang melamar. Hal ini juga setelah Fatimah Az-Zahra wafat setelah wafatnya ayahanda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Meski usianya jauh lebih muda dari Asma, Ali bermaksud untuk membantu kakak iparnya itu membiayai kehidupan anak-anak kakaknya yang sudah wafat.
Lamaran ini tidak langsung dijawab Asma. Ia seperti merasa sungkan untuk menerima. Lama ia menunda jawaban itu. Tapi karena memahami maksud tujuan Ali itu, akhirnya lamaran itu diterima Asma.
Dari pernikahan ini, Allah mengaruniai Asma dua tambahan putra. Yaitu, Yahya bin Ali dan Aunan bin Ali.
Di saat sebagai istri, suaminya: Ali bin Abi Thalib juga diangkat sebagai Khalifah seperti yang ia alami saat menjadi istri Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Asma wafat satu tahun sebelum wafatnya Ali bin Abu Thalib. Yaitu, pada tahun 660 masehi. Sementara Ali bin Abu Thalib wafat satu tahun kemudian.
Dari masa pernikahannya dengan tiga sahabat Rasulullah yang mulia itu, Allah mengaruniai Asma enam orang anak. Semuanya laki-laki.
**
Ketika seorang wanita tidak lagi sekadar sebagai istri dan ibu, tapi juga seorang aktivis dakwah; Allah menganugerahinya keberkahan di banyak sisi. Allah menganugerahinya kepiawaian mengelola rumah tangga sekaligus mengurus umat.
Jangan pernah membatasi keberkahan ini. Karena semua peran itu, termasuk dakwah, jika dilakukan dengan ikhlas dan ihsan akan menjadi amal soleh yang luar biasa. [Mh]





